Padahal masyarakat Jember sudah muak sampai ubun-ubun. Mereka tidak butuh video klarifikasi pakai backsound piano sedih.
Tidak butuh permintaan maaf sambil nunduk tiga derajat. Publik ingin tindakan brutal. Pecat. PAW. Copot. Lempar keluar dari kursi DPRD seperti wasit mengusir pemain yang sengaja patahin kaki lawan.
Karena kalau kasus beginian cuma berakhir dengan “teguran keras”, habislah martabat lembaga dewan. Besok-besok akan ada anggota DPRD rapat sambil live TikTok joget velocity.
Ada yang main slot online saat bahas banjir. Ada yang push Mythic sambil pidato soal kemiskinan. Negeri ini berubah jadi sirkus, dan rakyat dipaksa bayar tiket pertunjukannya lewat pajak.
Achmad Syahri Assidiqi sekarang bukan lagi sekadar anggota dewan. Dia sudah menjelma jadi maskot penghinaan terhadap rakyat. Simbol hidup, sebagian politisi melihat penderitaan masyarakat seperti iklan YouTube, bisa di-skip kapan saja.
Kini publik menunggu satu hal, apakah Gerindra punya nyali membersihkan aib ini sampai akar, atau cuma akan menyemprot pengharum ruangan di atas tumpukan bangkai politik sambil berharap rakyat terlalu miskin untuk marah?































































































Beri Komentar