UPDATE

Sponsored
EKONOMIDIGITAL

Bukan Sekadar Tanda Tangan, Bank Aceh Syariah dan PosSaku Siap Bawa UMKM Aceh Lari di Era Digital

BANDA ACEH – Di sudut-sudut pasar tradisional Aceh, masih banyak pedagang yang mencatat transaksi di buku lusuh, menghitung stok barang dengan cara lama, dan menerima pembayaran hanya dengan uang tunai. Pemandangan itu mungkin akan segera berubah.

PT Bank Aceh Syariah resmi menjalin kerja sama strategis dengan PT PosSaku Mitra Usaha — sebuah langkah yang bukan sekadar acara seremonial dengan rangkaian jabat tangan dan spanduk bertuliskan “MoU”, melainkan kolaborasi konkret yang langsung menyentuh kebutuhan nyata pelaku usaha di lapangan.

Inti dari kerja sama ini sederhana namun berdampak besar: seluruh merchant Bank Aceh kini mendapat akses ke aplikasi Point of Sale (POS) milik PosSaku yang terintegrasi langsung dengan sistem pembayaran QRIS Bank Aceh.

Artinya, dalam satu platform, seorang pedagang kopi di Banda Aceh atau pemilik toko kelontong di Bireuen bisa sekaligus menerima pembayaran digital, memantau stok barang, mencatat transaksi harian, hingga mencetak laporan keuangan — tanpa perlu repot berpindah aplikasi atau bergantung pada catatan manual yang rentan kesalahan.

Mengapa Ini Penting?

Selama bertahun-tahun, UMKM Indonesia — termasuk di Aceh — menghadapi hambatan yang sama berulang kali: proses administrasi yang menyita waktu, pencatatan keuangan yang tidak rapi, dan sulitnya memantau pergerakan bisnis secara real-time.

Akibatnya, banyak pelaku usaha yang potensial justru stagnan bukan karena kualitas produknya buruk, melainkan karena sistem pengelolaan bisnisnya masih tertinggal.

Platform terintegrasi yang lahir dari kolaborasi Bank Aceh Syariah dan PosSaku ini hadir sebagai jawaban atas persoalan lama tersebut.

Dengan sistem yang sudah terhubung otomatis, pelaku usaha tidak perlu lagi membuang energi untuk urusan back-office yang rumit. Fokus bisa sepenuhnya diarahkan ke hal yang paling penting: mengembangkan bisnis dan melayani pelanggan.

Kerja sama ini juga mencakup dimensi yang lebih luas dari sekadar teknologi. Program pemasaran bersama (cross marketing), edukasi merchant secara berkala, hingga skema harga khusus bagi pelaku usaha yang bergabung dalam ekosistem Bank Aceh turut menjadi bagian dari paket kolaborasi ini.

Dan yang tak kalah menarik, proses onboarding merchant dirancang secepat mungkin — dengan komitmen verifikasi dan aktivasi layanan maksimal dalam tiga hari kerja. Bukan tiga minggu, bukan tiga bulan.

“Biar Sistem yang Bantu Kerja”

Direktur Dana dan Jasa Bank Aceh Syariah, Hendra Supardi, berbicara lugas soal filosofi di balik kolaborasi ini. Menurutnya, era di mana UMKM cukup “jalan” sudah lama berlalu.

“UMKM hari ini tidak cukup hanya ‘jalan’, tapi harus bisa ‘lari’ mengikuti perkembangan zaman. Kolaborasi ini kami hadirkan supaya pelaku usaha di Aceh bisa langsung adaptif dengan sistem digital tanpa harus ribet mulai dari nol,” tegasnya.

Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Di baliknya ada pengakuan jujur bahwa selama ini salah satu hambatan terbesar digitalisasi UMKM bukan pada kemauan pelakunya, melainkan pada kerumitan proses adaptasi yang kerap membuat pengusaha kecil mundur sebelum mencoba.

Dari sisi PosSaku, Direktur Pengembangan Produk dan Ekosistem Muharrir Hasbi melihat kolaborasi ini sebagai momen yang sudah lama dinantikan.

“Kami percaya, ketika sistem pembayaran dan pencatatan usaha sudah terintegrasi, pelaku UMKM bisa lebih fokus ke hal yang paling penting: mengembangkan bisnis mereka. Sisanya, biar sistem yang bantu kerja,” ujarnya.

Kalimat “biar sistem yang bantu kerja” itu terdengar sederhana, tapi sesungguhnya merangkum visi besar yang ingin diwujudkan: teknologi bukan sesuatu yang menakutkan atau eksklusif milik perusahaan besar, melainkan alat yang bekerja di belakang layar agar manusia di depannya bisa lebih produktif.

Target jangka panjang dari kolaborasi ini lebih dari sekadar memperbanyak merchant digital. Bank Aceh Syariah dan PosSaku menargetkan terwujudnya ekosistem UMKM Aceh yang lebih tertib administrasi, transparan, dan yang paling krusial — berbasis data.

Mengapa data penting? Karena UMKM yang memiliki rekam jejak transaksi digital yang rapi memiliki peluang jauh lebih besar untuk mengakses pembiayaan perbankan, bermitra dengan perusahaan besar, hingga naik kelas ke segmen usaha yang lebih tinggi. Data adalah aset baru, dan ekosistem yang dibangun oleh dua institusi ini dirancang untuk membantu UMKM Aceh mulai membangun aset tersebut.

Di sisi lain, integrasi QRIS sebagai metode pembayaran utama dalam ekosistem ini turut memberikan dampak yang lebih luas: mendorong inklusi keuangan hingga ke pelosok-pelosok Aceh yang selama ini masih bergantung penuh pada transaksi tunai.

Lebih dari Sekadar Awal

Kedua pihak juga menyepakati bahwa kerja sama ini bukan titik akhir, melainkan titik berangkat. Peluang pengembangan lebih lanjut — mulai dari inovasi layanan baru, integrasi fitur pembiayaan, hingga program pendampingan UMKM yang berkelanjutan — telah masuk dalam peta jalan kolaborasi ke depan.

Karena pada akhirnya, digitalisasi bukan soal memiliki aplikasi di ponsel. Digitalisasi sejati terjadi ketika seorang pedagang kecil di Aceh bisa tidur lebih nyenyak malam ini, karena ia tahu laporannya sudah tercatat rapi, pembayarannya sudah masuk, dan bisnisnya siap berlari lebih kencang esok hari.

Download Aplikasi Action Mobile:

Action Mobile
Action Mobile
Price: Free
Action Mobile
Action Mobile
Developer: PT. Bank Aceh
Price: Free
  • Action Mobile Screenshot
  • Action Mobile Screenshot
  • Action Mobile Screenshot
  • Action Mobile Screenshot
  • Action Mobile Screenshot
  • Action Mobile Screenshot

Download Aplikasi PosSaku:

Kasir & Buku Kas PosSaku
Kasir & Buku Kas PosSaku
Developer: POSSAKU
Price: Free
Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.