UPDATE

OPINI
OPINI

Habis Gelap Terbitlah Bangkrut?

Oleh: Jimmy H Siahaan

INDONESIA Gelap, Bro ! Pemerintah nggak punya ‘Sense of Crisis’, seru Ferry Latuhihin dalam sebuah podcast Suara Rocker, tanggal 11 Juni 2026.Indonesia Gemoy sudah lama berlalu. Bulan madu kemenangan sudah dilupakan. Kini yang tersisa adalah harapan yang memudar. Indonesia ibarat lokomotif yang sedang mencari titik temu antara cita-cita besar (visioner) dan solusi cepat (pragmatis). 

Advertisements
Selamat Hari Tentara Nasional Indonesia ke-81

Visi seperti “Indonesia Emas 2045” memberikan arah jangka panjang, namun tantangan ekonomi-Politik harian kerap menuntut kebijakan yang instan dan taktis. Target besar agar Indonesia keluar dari Middle-Income Trap dan bercita-cita menjadi kekuatan ekonomi global.

Transformasi Digital & Fokus pada hilirisasi industri dan pembangunan infrastruktur teknologi untuk masa depan yang kompetitif. Diplomasi luar negeri yang super aktif dan moderat untuk menjaga posisi strategis di kancah internasional.

Namun praktik pemilu dan kebijakan koalisi sering kali didorong oleh bagi-bagi kekuasaan ketimbang kesamaan ideologi. Kebijakan ekonomi dan pembangunan acap kali berorientasi hasil cepat untuk mendongkrak popularitas jangka pendek.

Ketegangan antara menjaga idealisme perencanaan pembangunan dengan mengakomodasi kompromi politik praktis.

Eksekusi yang Realistis. Agar tidak terjebak dalam utopia atau kompromi yang merusak, Indonesia membutuhkan pragmatisme visioner sebuah komitmen di mana langkah-langkah praktis hari ini harus menjadi batu loncatan yang terukur menuju visi jangka panjang.

Keseimbangan yang harmonis antara logika politik dan perilaku ekonomi yang sewaktu-waktu bisa bergeser akibat peristiwa bersejarah yang terjadi secara tidak terduga, demikian pandangan Robert Solow, pemegang hadiah Nobel, bidang ekonomi.

Ekonomi Retorika 

Sebuah pandangan dari Muhammad Ikhsan, Guru Besar FEB UI, mengingatkan dalam sejarah kebijakan ekonomi Indonesia, kita pernah mengenal masa dimana rasionalitas menjadi panglima. Semua berbasis kalkulasi biaya-manfaat. 

Namun, lanskap itu kini berubah. Di era demokrasi, kebijakan ekonomi tidak dijual dengan angka-angka, melainkan dengan narasi, slogan dan storytelling.

Hilirisasi, Kedaulatan Pangan, Ekonomi Kerakyatan, Revolusi Industri 4.0 hingga Green Economy semua dikemas dalam narasi besar untuk menggeser “heart and minds”.

Rasionalitas Ekonomi seringkali tersisih diganti oleh retorika ekonomi, Kontan, 29 September 2025. Dapat ditambahkan Indonesia belum krisis, tetapi faktor resiko saat ini meningkat.

Menuju Indonesia Bangkrut?

Kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan yang memicu aliansi mahasiswa menggelar demonstrasi di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Jumat, 12 Juni 2026. 

image_print

1 2
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.