Namun, Dino juga membuka kemungkinan lain: bahwa absennya delegasi RI bukan soal ketakutan, melainkan cerminan manajemen sistem politik luar negeri yang bermasalah — di mana surat undangan diduga tersendat di berbagai meja birokrasi tanpa ada pejabat yang berani mengambil keputusan.
Singgung Anis Matta yang Sibuk ke Asia Tengah
Dino turut menyoroti bahwa Indonesia sebenarnya memiliki opsi untuk tetap hadir tanpa harus mengirim Menteri Luar Negeri. Ia menyebut nama Wakil Menteri Luar Negeri urusan Dunia Islam, Anis Matta, yang menurutnya bisa saja ditugaskan hadir mewakili Indonesia. Namun, pada saat pemakaman berlangsung, Anis Matta justru sedang melakukan kunjungan kerja rutin ke kawasan Asia Tengah.
Iran Disebut Sahabat Lama Indonesia
Dino mengingatkan bahwa Indonesia dan Iran adalah sahabat lama yang hubungannya selalu terjaga hangat dan saling menghormati, tanpa pernah ada konflik di antara kedua negara. Menurutnya, kehadiran delegasi resmi Indonesia dalam penghormatan terakhir untuk Khamenei semestinya menjadi momen pembuktian diplomasi bebas aktif sekaligus sinyal tegas dari Jakarta bahwa serangan yang menewaskan Khamenei adalah tindakan ilegal yang melanggar hukum dan norma internasional.
Ia menutup kritiknya dengan menegaskan bahwa diplomasi bebas aktif seharusnya berarti diplomasi yang berprinsip, bukan diplomasi yang penuh sungkan dan bersembunyi ketika harus mengambil sikap dalam situasi sensitif.
Bukan Kritik Pertama Soal Sikap RI terhadap Iran
Ini bukan kali pertama Dino menyoroti sikap pemerintah terkait Iran. Pada awal Maret 2026, tak lama setelah kabar wafatnya Khamenei, Dino juga mempertanyakan absennya ucapan belasungkawa publik dari pemerintah Indonesia. Belakangan terungkap bahwa Presiden Prabowo Subianto sempat mengirim surat belasungkawa resmi secara tertutup kepada Presiden Iran, meski tidak diumumkan ke publik.



















































































































Komentar Terbaru