Langkah sederhana tersebut kemudian menjadi penting. Semakin sering menulis, semakin terbentuk pula karakter tulisan yang ingin dibawanya.
Baginya, menjadi penulis bukan sekadar memiliki buku dengan nama sendiri tercetak di sampul. Menulis adalah cita-cita yang sejak lama ingin diperjuangkan.
Ada alasan personal di balik mimpi tersebut. Nikmat ingin membuat kedua orang tuanya bangga. Ia juga menyimpan keinginan agar suatu hari namanya dikenal lebih luas melalui tulisan-tulisan yang mempunyai manfaat bagi pembaca.
Namun, mimpi itu harus ditempuh bersamaan dengan kerasnya kehidupan sebagai anak rantau.
Jauh dari keluarga berarti banyak persoalan harus dihadapi sendiri. Ada kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Ada pekerjaan yang harus dilakukan. Ada pula kerinduan kepada rumah yang tidak selalu dapat diselesaikan dengan pulang.
Nikmat harahap memilih tidak menjadikan keadaan itu sebagai alasan untuk berhenti.
Justru di tanah rantau, ia mencoba mempertemukan dua kebutuhan sekaligus: mencari penghidupan dan mempertahankan mimpi menjadi penulis.
Perjuangan tersebut akhirnya melahirkan dua buku pertamanya. Bagi Nikmat Harahap, pencapaian itu bukan garis akhir. Dua buku tersebut lebih tepat disebut sebagai pintu masuk menuju perjalanan kepenulisan yang ingin terus dibangunnya.
Dari Rantau Menuju Ruang Digital
Perjalanan Nikmat harahap juga memperlihatkan perubahan menarik dalam dunia kepenulisan generasi muda. Seorang penulis kini tidak hanya berhadapan dengan buku, penerbit, dan toko buku.Ada ruang baru bernama media sosial.
Nikmat harahap memanfaatkan ruang tersebut untuk memperkenalkan tulisan sekaligus membangun hubungan dengan audiens. Posisi sebagai penulis dan kreator konten kemudian saling menguatkan. Buku memberikan identitas intelektual dan kreatif, sementara media sosial memperluas jangkauan personal branding-nya.
Ia sedang membangun dirinya sebagai penulis muda dari tanah rantau yang mengubah pengalaman hidup menjadi karya.
Identitas itu terasa kuat karena tidak dibangun dari cerita keberhasilan semata. Di belakangnya terdapat perjalanan seorang anak muda yang harus hidup jauh dari keluarga sembari mempertahankan cita-cita.
Bahkan judul buku “DOA IBU YANG UDAH TIADA” membawa pembaca kepada ruang emosional yang sangat personal: tentang ibu, kehilangan, dan doa. Sementara “DUNIA EMANG SEJAHAT INI” membawa nada yang dekat dengan kegelisahan generasi muda ketika berhadapan dengan kerasnya kehidupan.
Keduanya menempatkan Nikmat Harahap pada ceruk yang khas: tulisan populer dengan kedekatan emosional terhadap pengalaman hidup anak muda.






























































































Beri Komentar