Safrizal mengatakan, keberadaan Jembatan Krueng Tingkeum memiliki arti strategis bagi mobilitas masyarakat dan distribusi barang di Aceh.
Jembatan Kuta Blang berada di jalur nasional Banda Aceh-Medan yang menjadi salah satu jalur utama transportasi darat di kawasan pantai timur Aceh. Jalur tersebut menghubungkan sejumlah kabupaten dan kota serta menjadi akses penting bagi kendaraan masyarakat maupun angkutan barang.
Karena itu, penyelesaian jembatan permanen tersebut diharapkan dapat memulihkan kelancaran arus transportasi sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Utamakan Keselamatan
Safrizal menegaskan, Satgas PRR Aceh akan terus memantau perkembangan pembangunan infrastruktur strategis yang menjadi bagian dari agenda rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
“Kita berharap pekerjaan dapat terus berjalan sesuai target dan seluruh tahapan teknis dapat diselesaikan dengan baik. Yang paling penting, ketika difungsikan nantinya, jembatan harus memenuhi standar keselamatan dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat,” katanya.
Dengan progres 92,8 persen, pembangunan Jembatan Krueng Tingkeum kini difokuskan pada sejumlah pekerjaan akhir, seperti penyelesaian parapet, expansion joint, trotoar, pengaspalan, dan pekerjaan pendukung lainnya.
Pihak pelaksana juga memastikan umur dan kekuatan beton memenuhi persyaratan teknis sebelum jembatan difungsikan. Tahapan tersebut diperlukan untuk menjamin keamanan dan kelayakan struktur saat digunakan masyarakat.
Apabila seluruh pekerjaan berjalan sesuai jadwal, Jembatan Krueng Tingkeum ditargetkan mulai berfungsi pada 20 September 2026. Penyelesaian jembatan ini diharapkan memperkuat kembali konektivitas Banda Aceh-Medan serta mendukung mobilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat di kawasan pantai timur Aceh.[]






























































































Beri Komentar