BANDA ACEH, MEDAN – Menjelang berakhirnya masa tugas di Medan, Konsul Jenderal Jepang, H.E. Mr. Furugori Toru, menjamu Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haythar, dalam jamuan makan siang kehormatan di kediaman resmi Konsul Jenderal Jepang di Medan, Kamis, 15 Oktober 2026.
Pertemuan tersebut membahas hubungan Jepang dan Aceh, keberlanjutan sejumlah program kerja sama yang telah berjalan, serta peluang pengembangan kolaborasi di bidang pendidikan, kebencanaan, kemaritiman, energi, investasi, hingga pelestarian peninggalan sejarah Jepang di Sabang.
Kabag Kerja Sama dan Humas Wali Nanggroe, Zulfikar Idris, mengatakan jamuan tersebut berlangsung menjelang berakhirnya masa tugas Furugori Toru di Medan yang dijadwalkan pada pekan depan. Furugori mulai menjabat sebagai Konsul Jenderal Jepang di Medan pada Juni 2025, menggantikan Takonai Susumu.
Dalam pertemuan itu, Furugori memaparkan sejumlah program kerja sama dan bantuan Pemerintah Jepang untuk Aceh, terutama sejak bencana gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia pada 26 Desember 2004.
Berdasarkan paparan Konsulat Jenderal Jepang, pada masa tanggap darurat tsunami, Jepang mengerahkan lebih dari 2.000 personel dan menyalurkan sekitar 403 ton bantuan kemanusiaan.
Dukungan tersebut berlanjut pada masa rehabilitasi dan rekonstruksi melalui berbagai program, mulai dari pemulihan fasilitas kesehatan, penyediaan air bersih dan sanitasi, pembangunan sarana evakuasi, pengendalian banjir, hingga pemulihan sektor perikanan dan fasilitas masyarakat.
Di sektor infrastruktur dan ekonomi, kerja sama yang dipaparkan antara lain pembangunan PLTA Peusangan Tahap II dengan nilai proyek sekitar 13,62 miliar yen serta pengembangan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Sabang.
Selain itu, terdapat kegiatan survei eksplorasi minyak dan gas bumi di sekitar Lhokseumawe yang melibatkan JOGMEC, JAPEX, dan Universitas Padjadjaran.
Melalui skema bantuan hibah Grassroots, Jepang juga mendukung pembangunan Pusat Edukasi Tsunami Aceh pada 2023 senilai sekitar USD 50.031. Pada 2025, Jepang turut memberikan bantuan alat berat untuk pemulihan bencana di Kabupaten Bireuen dan Pidie Jaya senilai sekitar USD 452.357.
Kerja sama pengurangan risiko bencana melalui JICA turut melibatkan Kota Banda Aceh dan Kota Higashimatsushima, Jepang, terutama dalam pendidikan kebencanaan dan peningkatan kapasitas masyarakat.
Pada Agustus 2026, kedua pemerintah kota juga telah menandatangani nota kesepahaman terkait kerja sama di bidang pemulihan dan ketahanan terhadap bencana.






























































































Beri Komentar