Menanggapi paparan tersebut, Wali Nanggroe menyampaikan apresiasi atas kontribusi Pemerintah dan masyarakat Jepang dalam mendukung pemulihan dan pembangunan Aceh.
Menurut Wali Nanggroe, hubungan yang telah terbangun selama lebih dari dua dekade sejak tsunami 2004 merupakan modal penting untuk memperkuat persahabatan sekaligus memperluas kerja sama yang memberikan manfaat bagi kedua pihak.
Ia juga mendorong agar hubungan yang telah terjalin dengan lembaga pendidikan dan pemerintah daerah di Aceh terus dikembangkan.
Wali Nanggroe menyinggung peluang kolaborasi yang melibatkan Universitas Syiah Kuala, Universitas Teuku Umar, serta pemerintah daerah di kawasan Aceh Barat, termasuk Meulaboh.
“Pengalaman dari berbagai kerja sama yang telah berjalan dinilai dapat menjadi referensi untuk menjajaki program serupa di kabupaten dan kota lainnya di Aceh sesuai dengan kebutuhan dan potensi masing-masing daerah,” kata Wali Nanggroe.
Bidang yang dinilai berpeluang dikembangkan meliputi pendidikan tinggi, penelitian bersama, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, teknologi, penanggulangan bencana, hingga pembangunan ekonomi masyarakat.
Wali Nanggroe menekankan bahwa kerja sama ke depan perlu dibangun secara berkesinambungan, terukur, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Aceh.
Pelestarian Sejarah Jepang di Sabang
Pelestarian peninggalan sejarah Jepang di Sabang menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian khusus dalam pertemuan tersebut.
Wali Nanggroe menyampaikan peluang penjajakan kerja sama penelitian dan pelestarian peninggalan militer Jepang dari masa Perang Dunia II yang masih terdapat di sejumlah kawasan di Sabang.
Peninggalan tersebut antara lain berupa gua, bunker, terowongan, dan struktur pertahanan yang berkaitan dengan masa pendudukan Jepang.
Sejumlah kawasan, seperti Anoi Itam, Ujong Kareung, Pantai Kasih, Pasir Putih, dan Cot Labu, dinilai dapat dipertimbangkan untuk inventarisasi dan kajian awal.
“Peninggalan tersebut tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga berpotensi dikembangkan sebagai sarana pendidikan dan pariwisata apabila diteliti serta dilestarikan secara bertanggung jawab,” sebut Wali Nanggroe.
Dalam konteks tersebut, Wali Nanggroe menyampaikan gagasan Sabang World War II Military Heritage Conservation and Tourism Programme sebagai konsep awal yang dapat dikaji lebih lanjut bersama instansi dan lembaga terkait di Indonesia maupun Jepang.
Penjajakan tersebut dapat mencakup identifikasi lokasi, penelitian sejarah, dokumentasi, penilaian kondisi bangunan, hingga kajian mengenai metode konservasi dan pemanfaatannya untuk pendidikan sejarah serta pariwisata berkelanjutan.






























































































Beri Komentar