BANDA ACEH – Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai narasi Politik mengenai kemungkinan Presiden Prabowo Subianto hanya memimpin Indonesia dalam waktu singkat telah berkembang sejak awal masa pemerintahannya.Menurut Amir, dinamika tersebut tidak bisa dilepaskan dari apa yang disebutnya sebagai seni mengelola kekuasaan di tengah berbagai tantangan, baik dari dalam maupun luar negeri.
Amir mengatakan, sejak dilantik sebagai presiden, Prabowo telah menghadapi persoalan kompleks, mulai dari pertarungan kepentingan politik domestik hingga pengaruh kekuatan ekonomi global.
“Sejak awal memang berkembang narasi bahwa Prabowo hanya dua tahun. Ini menyangkut seni dalam mengelola kekuasaan. Sejak dilantik, Prabowo tentu mengetahui bahwa tantangan yang dihadapinya bukan hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari luar,” kata Amir kepada wartawan, Rabu (2/9/2026).
Dalam pandangannya, terdapat berbagai kepentingan besar yang memengaruhi perjalanan politik dan ekonomi Indonesia. Ia juga menyinggung keberadaan oligarki domestik serta kekuatan ekonomi internasional yang, menurut dia, memiliki jaringan dan pengaruh dalam sistem ekonomi global.
Amir kemudian membandingkan tantangan pemerintahan Prabowo dengan masa awal pemerintahan Presiden ke-2 RI Soeharto. Namun, ia menilai kondisi politik, ekonomi, dan sosial yang dihadapi kedua pemimpin tersebut memiliki perbedaan mendasar.
Menurutnya, Prabowo perlu mempelajari sejarah bagaimana Soeharto membangun dan mengonsolidasikan kekuasaan di tengah situasi nasional yang saat itu juga penuh gejolak.
“Situasi ketika Soeharto naik berbeda dengan kondisi Prabowo sekarang. Tetapi tentu ada pelajaran sejarah yang bisa dipelajari, terutama bagaimana menghadapi ancaman terhadap pemerintahan,” ujarnya.
Amir juga menyoroti langkah kompromi politik yang dilakukan Prabowo dengan melibatkan berbagai kekuatan dan kelompok dalam struktur pemerintahannya.
Namun, menurut dia, kompromi tersebut dapat menjadi persoalan apabila pihak-pihak yang dilibatkan justru memiliki agenda politik sendiri.
Ia menyebut adanya kelompok yang dikaitkannya dengan kekuatan politik era pemerintahan sebelumnya. Amir menilai kelompok tersebut, masih berupaya mempertahankan pengaruh dalam pemerintahan.
“Prabowo melakukan kompromi dengan berbagai kekuatan. Tetapi kalau kompromi itu kemudian dimanfaatkan untuk merusak pemerintahan dari dalam, tentu menjadi persoalan serius,” katanya.
Amir bahkan berpendapat bahwa Prabowo tidak bisa serta-merta mengambil langkah konfrontatif terhadap seluruh kekuatan politik yang dianggap berseberangan.































































































Beri Komentar