UPDATE

LINGKUNGAN
LINGKUNGAN

Wakapolri Dorong Perubahan Strategi Penanganan Karhutla dari Reaktif ke Antisipatif

Volume percakapan tertinggi terjadi pada 2 September dengan 7.466 penyebutan. Sementara sentimen negatif tertinggi mencapai 27,7 persen pada 21 Agustus, bersamaan dengan munculnya tagar #PrayForKalimantan.

Sebaran percakapan berasal dari media daring sebesar 47,4 persen, Instagram dan TikTok 30,2 persen, serta X dan Facebook 20,5 persen. Adapun bobot suara institusi tercatat hanya 2,48 persen.

Karena itu, Dedi meminta komunikasi krisis menjadi bagian integral dari strategi penanganan karhutla.

“Kerja lapangan yang intensif harus diikuti komunikasi yang baik agar kehadiran negara dapat terbaca oleh masyarakat,” ujarnya.

Tiga Perubahan Fundamental

Dedi menegaskan transformasi penanganan karhutla harus diarahkan pada tiga perubahan fundamental.

Pertama, dari reaktif menjadi antisipatif.

Kedua, dari penindakan individual menjadi penindakan terhadap individu dan korporasi.

Ketiga, dari pendekatan sektoral menjadi pendekatan multi-stakeholder.

“Jangan hanya melihat bagaimana api dipadamkan. Audit manajemennya. Lihat apa yang sudah dilakukan, apa yang kurang dan bagaimana memperbaikinya. Dari sana harus lahir rekomendasi yang konkret,” pungkas Dedi.

Melalui penugasan 322 personel tersebut, Polri berupaya memperkuat transformasi penanganan karhutla, dari sekadar memadamkan api menjadi membangun sistem yang mampu memprediksi risiko, mencegah kebakaran, melibatkan masyarakat, menjaga ekosistem, mengintegrasikan sumber daya, menegakkan hukum, serta mengelola komunikasi publik.[]

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.