BANDA ACEH — Video aksi mahasiswa yang meneriakkan kritik keras terhadap Presiden Prabowo Subianto di sekitar Bundaran HI, Jakarta, mendapat respons melalui sebuah unggahan Sekretariat Kabinet.Aksi tersebut merupakan bagian dari gerakan mahasiswa bertajuk #MerebutKemerdekaan yang digelar pada Selasa (18/8/2026), sehari setelah peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Dalam video aksi yang beredar, salah seorang orator melontarkan kritik tajam terhadap pemerintahan Presiden Prabowo. Bahkan, terdengar seruan, “Prabowo bedebah”.
Orator tersebut juga menyebut Prabowo sebagai presiden yang gagal dan mempertanyakan kondisi pemerintahan yang dinilai belum mampu menjawab sejumlah persoalan masyarakat.
Pernyataan itu kemudian menjadi bagian dari perdebatan publik di media sosial.
Namun, tak lama berselang, akun resmi Sekretariat Kabinet mengunggah sebuah video yang menampilkan rangkaian kegiatan perayaan HUT ke-81 RI dengan kerumunan masyarakat.
Video tersebut menggunakan thumbnail bertuliskan, “IRONI DEMO ‘PRABOWO BEDEBAH’ — 500 RIBU WARGA MENYAPA PAK PRESIDEN.”
Unggahan inilah yang kemudian memunculkan polemik baru.
Sejumlah warganet mempertanyakan pilihan narasi yang digunakan dalam konten tersebut.
Mereka menilai penggunaan angka “500 ribu warga” dalam satu narasi dengan seruan “Prabowo bedebah” seolah-olah menempatkan besarnya partisipasi masyarakat dalam perayaan HUT RI sebagai jawaban atas kritik mahasiswa.
Padahal, kehadiran masyarakat dalam rangkaian kegiatan peringatan kemerdekaan tidak serta-merta dapat diterjemahkan sebagai dukungan Politik terhadap Presiden.
Masyarakat bisa hadir karena berbagai alasan, mulai dari mengikuti perayaan kemerdekaan, menikmati hiburan, menghadiri kegiatan publik, hingga sekadar meramaikan momentum HUT RI.
Karena itu, angka jumlah peserta dalam sebuah perayaan publik juga tidak otomatis dapat digunakan untuk mengukur tingkat kepuasan atau dukungan politik terhadap pemerintah.
Di titik inilah persoalan komunikasi publik menjadi sorotan.
Akun resmi pemerintah pada dasarnya memiliki fungsi menyampaikan informasi mengenai kebijakan, kegiatan, dan program pemerintah kepada masyarakat.
Ketika akun tersebut menggunakan narasi yang secara langsung memperhadapkan aksi kritik dengan kerumunan warga dalam perayaan kenegaraan, pesan yang muncul dapat dibaca lebih jauh sebagai respons politik terhadap kritik tersebut.
Padahal, kritik mahasiswa dan perayaan kemerdekaan merupakan dua hal yang berbeda.
Mahasiswa memiliki ruang untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah, sementara masyarakat juga memiliki hak untuk menikmati perayaan kemerdekaan tanpa harus dianggap sebagai bagian dari dukungan politik kepada pemerintah.































































































Beri Komentar