UPDATE

Salam.life
OPINI
OPINI

APBN di Tepi Jurang, Kinerja Purbaya Mulai Dipertanyakan

Oleh: Rosadi Jamani1

DI awal menjabat, publik langsung menggelarinya, menteri keuangan koboi. Pernyataan beliau soal utang kereta cepat Whoosh tidak gunakan APBN, itu membuat rakyat tepuk tangan.

Namun, belakangan ternyata utang Whoosh dibayar dengan pajak rakyat, kinerjanya mulai disorot. Makin ke sini, ia makin ke sana.

Enam bulan terakhir, perhatian publik mulai tertuju pada Purbaya Yudhi Sadewa. Ketika ia menggantikan Sri Mulyani Indrawati, dukungan publik sempat mengalir deras.

Harapannya sederhana tetapi berat, menjaga disiplin fiskal, menenangkan pasar, dan membuat APBN kembali terlihat gagah seperti dompet tanggal satu.

Masalahnya, ekonomi tidak pernah tunduk pada harapan. Ia tunduk pada angka. Angka-angka belakangan ini mulai membuat sebagian ekonom mengernyit.

Kinerja fiskal pemerintah dalam enam bulan terakhir mendapat sorotan. Beberapa indikator ekonomi dinilai belum menunjukkan perbaikan signifikan.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bertahan di kisaran 5 persen dalam beberapa kuartal terakhir. Stabil memang, tetapi tidak memberikan akselerasi berarti seperti yang diharapkan pemerintah.

Nuan bayangkan mobil yang mesinnya hidup, bensin ada, pengemudi semangat, tetapi pedal gas seperti tidak terlalu diinjak. Jalan terus, tetapi tidak benar-benar ngebut.

Lampu kuning juga datang dari lembaga pemeringkat internasional. Fitch Ratings merevisi prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif. Sementara Moody’s Investors Service juga menyoroti sejumlah risiko fiskal yang muncul belakangan.

Dalam dunia keuangan global, perubahan outlook seperti ini ibarat dokter yang berkata kepada pasien, “Kondisinya masih stabil, tetapi tolong kurangi gorengan.”

Program prioritas pemerintah juga ikut disorot. Salah satunya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi agenda utama pemerintah.

Program ini dianggap penting untuk pembangunan sumber daya manusia, tetapi implementasinya menghadapi tantangan dari sisi anggaran hingga distribusi.

Dalam filsafat APBN, program sosial besar sering menghadapi dilema klasik. Niatnya mulia, tetapi biayanya bisa berkembang seperti bola salju yang turun dari gunung.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira, menilai sejumlah indikator menunjukkan tekanan pada pengelolaan fiskal.

Disiplin fiskal mulai melemah yang terlihat dari potensi pelebaran defisit anggaran. Jika harga minyak dunia meningkat, defisit APBN berpotensi melebar hingga 3,3 persen sampai 3,6 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

image_print
  1. Ketua Satupena Kalbar[]
1 2

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.