Kehidupan awal Prajogo Pangestu, yang bernama asli Phang Djoem Phen, berada dalam kondisi kurang beruntung secara finansial.
Ayahnya adalah seorang penyadap getah karet. Keterbatasan finansial membuat Prajogo hanya mampu menyelesaikan pendidikan sampai tingkat menengah pertama.
Dengan tekad kuat dan motivasi untuk menghidupi keluarga, Prajogo merantau ke Jakarta. Namun, perjuangan di Jakarta tidak langsung membawa kesuksesan baginya.
Baca Juga: Profil Bahlil Lahadalia, Supir Angkot yang Sukses Jadi Pengusaha dan Menteri Investasi Indonesia
Setelah merasa kecewa, Prajogo kembali ke kampung halamannya.
Prajogo kemudian menjadi sopir angkot sebagai salah satu upaya mengais rezeki.
Pertemuan dengan pengusaha kayu Bong Sun On menjadi titik awal perubahan dalam perjalanan hidup Prajogo Pangestu.
Pada tahun 1969, Prajogo Pangestu memulai karier di PT Djajanti Group yang dimiliki oleh Bong Sun On.
Berkat kerja kerasnya, tujuh tahun kemudian, Prajogo berhasil meraih jabatan sebagai general manager (GM) di Pabrik Plywood Nusantara.
Setelah setahun berkarier, Prajogo Pangestu memberanikan diri untuk membuka usaha sendiri.
Awalnya, ia membeli CV Pacific Lumber Coy dengan menggunakan modal utang dari bank.
Perusahaan ini tumbuh sukses dan akhirnya go public di Bursa Efek Indonesia pada tahun 1993, berganti nama menjadi PT Barito Pacific pada 2007.
Prajogo terus mengembangkan bisnisnya dengan menjalin kerja sama dengan anak-anak mantan Presiden Soeharto dan pengusaha lainnya.
Selama karirnya, Prajogo Pangestu menduduki berbagai posisi penting di beberapa perusahaan, seperti Presiden Komisaris PT Tripolyta Indonesia Tbk, Presiden Komisaris PT Chandra Asri Petrochemical Center.
Ia juga Wakil Presiden Komisaris PT Tanjungenim Lestari Pulp & Paper, dan Presiden Komisaris PT Barito Pacific Timber, Tbk, sejak 1993 hingga menjadi Komisaris PT Astra International pada 1998.
Perkembangan bisnisnya mencakup perusahaan Barito Pacific Timber yang go public pada tahun 1993 dan berganti nama menjadi Barito Pacific pada 2007 setelah mengurangi bisnis perkayuannya.
Pada tahun 2007, Barito Pacific mengakuisisi 70 persen saham perusahaan petrokimia Chandra Asri, yang kemudian bersatu dengan Tri Polyta Indonesia pada tahun 2011, menjadi produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia.
Barito Pacific kemudian memperluas bisnisnya ke sektor energi dengan mengambil alih produsen energi panas bumi, Star Energy, pada Maret 2022.
Akuisisi ini dilakukan oleh kantor keluarga Prajogo Pangestu dengan mengakuisisi 33 persen saham dari BCPG Thailand senilai US$440 juta atau sekitar Rp6,8 triliun.
































































































Beri Komentar