Serangan lainnya datang dengan peluru ‘Syariat Islam.’ Warga kota ditakut-takuti dengan beragam isu yang menggambarkan Illiza sebagai sosok yang kejam, keras, dan tidak memiliki toleransi. Bahkan mereka sibuk mencari dalil-dalil untuk menohok Illiza agar masyarakat membencinya dengan isu-isu receh. Sungguh sebuah strategi kampanye sangat buruk dalam alam demokrasi.
Illiza sudah berulangkali mengatakan, syariat islam adalah komitmen kita bersama. Mestinya kita sangat bangga karena satu-satunya daerah yang diberikan kewenangan menjalankan syariat Islam sebagai bagian dari kebijakan pemerintah, dijamin oleh konstitusi. Bukan malah mendegradasinya.
Syariat Islam bukanlah penghalang bagi kemajuan daerah atau bahkan sebuah negara sekalipun. Lihatlah sejarah bagaimana peradaban Islam itu memberikan kontribusi terhadap kemajuan dunia dan khazanah ilmu pengetahuan sejak abad-abad lalu. Islam itu indah, menghargai kreativitas dan mendorong kemajuan. Jadi tidak ada masalah dengan pemuda dan syariat islam.
Jika Anda mau berpikir dengan jernih dan positif walau semenit saja, lalu bertanya kepada diri sendiri, sebenarnya hal apa yang paling urgen dibutuhkan untuk memajukan daerah ini dan bangsa kita? Maka di sana akan ditemukan jawaban yakni ketulusan dan dedikasi. Daripadanya kemudian tercipta berbagai prestasi. Itulah jawaban Illiza untuk mereka yang belum bisa menata hati.
**). Penulis adalah Dosen Politeknik Kutaraja, Kota Banda Aceh
















































































































Komentar Terbaru