Di sisi lain, Trump memiliki ambisi dan prioritas-prioritas besar, baik di Amerika maupun di kancah internasional, sehingga dibutuhkan energi, strategi dan finansial yang matang dalam menyongsong rancangan pemerintahannya, termasuk menuntaskan “neraka dunia” yang saat ini menyala di California. Dan untuk mengamankan semua jalannya, Trump mau tak mau harus mengakhiri untuk sementara ambisi Israel di kawasan ini.
Sedangkan Israel meski memahami betul bahwa mereka mahir memainkan kontradiksi di Amerika dan memanfaatkannya untuk mencapai keuntungan politik mereka, namun mereka harus sadar bahwa tanpa dukungan Amerika mereka tak akan mampu melakukan apa-apa. Alih-alih memberontak dan mengendalikan Amerika, Netanyahu terpaksa dengan penuh ketidakrelaan mematuhi keputusan Trump.
Tadinya Biden berkeinginan agar Israel menang di Gaza dan mencapai tujuan-tujuan yang digariskannya yaitu merebut “tanah pemberian Tuhannya” yang terbentang dari sungai Nil hingga Eufrat dan mengontrol kendali penuh atas Gaza, menghilangkan perlawanan seraya membebaskan tahanannya. Hal tersebut sangat penting bagi Amerika sebagai ibu asuh Israel, agar zionis dapat kembali memperoleh gengsinya, setelah terpuruk pada serangan 7 Oktober, namun kenyataannya Israel gagal total.
Dunia akan mengenang 7 Oktober sebagai penanda kejatuhan Israel. Itu adalah hari di mana kelompok yang terkepung, dengan sedikit peralatan dan perlengkapan, bermodalkan keimanan yang kuat kepada Allah, bergerak karena keinginan membebaskan bangsanya yang telah dijajah selama 75 tahun. Serangan itu menempatkan gengsi tentara Yahudi yang “tak terkalahkan” berada di bawah kaki-kaki para pemuda Palestina. Hal tersebut meruntuhkan imajinasi Israel, mematahkan daya upayanya, merendahkan martabatnya, menyingkap kelemahannya dan menimbulkan kengerian dengan banyaknya kematian pasukan dan komandannya.
Perang ini akan tetap membekas di hati bangsa-bangsa dunia, membuka mata dan menyingkap aib mereka, karena perang ini bukan hanya perang rakyat Palestina melawan genosida penjajah Israel, namun merupakan perang dan konfrontasi dengan Amerika, para pemimpin Arab pengkhianat, dan sebagian besar negara-negara adidaya.
Di hadapan negara-negara Barat yang mendukung Israel terdapat rezim-rezim pengkhianat yang mengabaikan pengepungan dan pembunuhan rakyat Palestina. Para pemimpin khianat menutup perbatasan untuk mencegah masuknya bantuan demi melayani tuan mereka, Amerika.
Sementara pelabuhan dan bandara mereka terbuka untuk memasok bantuan Amerika kepada Yahudi. Mereka menyaksikan bagaimana Amerika menyuplai senjata dan amunisi untuk membunuh saudara mereka di Gaza. Mereka menyaksikan bagaimana Amerika menutupi kejahatan Israel di forum-forum internasional, namun mereka tetap membuka jalur pasokan bagi Israel melintasi negeri mereka.































































































Beri Komentar