Prof Zaizul turut mengangkat fenomena kepercayaan masyarakat terhadap mata jahat (ain) dan kesurupan jin sebagai penyebab gangguan mental yang masih menjadi tantangan dalam pemahaman kesehatan mental umat Muslim. Ia mengingatkan stigma negatif yang masih melekat, seperti anggapan bahwa gangguan mental hanya dialami oleh orang yang “kurang iman,” padahal faktor biologis, sosial, dan psikologis turut berperan besar.
Dalam kesempatan itu, ia juga membantah kekhawatiran tentang tenaga profesional non-Muslim yang menangani pasien Muslim, karena etika profesi mengharuskan penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual pasien.
Zaizul menegaskan pentingnya pendekatan integratif antara ilmu kedokteran modern dan spiritualitas dalam menangani isu kesehatan mental di komunitas Muslim kontemporer. Ia menjelaskan bahwa gejala seperti kecemasan, delusi, dan halusinasi sudah lama dikenali meskipun dahulu sering dikaitkan dengan moralitas atau aspek spiritual.
Di Malaysia, perhatian khusus diberikan pada kesehatan mental remaja. Data terbaru menunjukkan satu dari empat remaja mengalami gangguan kesehatan mental, yang diperparah tekanan hidup dan ketergantungan pada teknologi.
“Generasi muda lebih bergantung pada gadget daripada Al-Qur’an, sehingga jauh dari petunjuk ilahi yang memberi ketenangan,” katanya.
Prof Zaizul juga menekankan pentingnya manajemen waktu yang seimbang antara pekerjaan, keluarga, agama, dan kesehatan, serta rutin melakukan aktivitas fisik seperti olahraga. Meski fasilitas konseling sudah tersedia di universitas dan rumah sakit di Malaysia, stigma masih menjadi hambatan utama dalam penanganan kesehatan mental.
Dalam sesi tanya jawab, Prof Zaizul menjelaskan ajaran Islam tentang tawakal (berserah diri) kepada Allah setelah berusaha maksimal, serta menekankan bahwa cobaan hidup harus dihadapi dengan kesabaran dan kedekatan spiritual.
Sebelumnya, Ketua Program Studi S3 Studi Islam UIN Ar-Raniry, Prof Syamsul Rijal menyampaikan bahwa tema “Kesehatan Mental dalam Perspektif Islam” dipilih sebagai bentuk respons terhadap meningkatnya kesadaran dan kebutuhan mendalam di kalangan akademisi dan masyarakat akan pentingnya kesehatan mental.
“Memahami kesehatan mental tidak hanya dari sisi medis, tetapi juga perspektif keagamaan, khususnya Islam, sangat penting agar kita dapat memberikan solusi yang menyeluruh dan sesuai dengan nilai-nilai spiritual masyarakat Muslim,” ujar Prof Syamsul.
Ia menambahkan, webinar ini diharapkan dapat membuka wawasan baru sekaligus mendorong kolaborasi antara disiplin ilmu kedokteran dan keislaman dalam penanganan isu kesehatan mental di Indonesia dan kawasan sekitarnya. []














































































































