Meski PR tertulis dihapuskan, para guru didorong untuk mengarahkan tugas bagi para siswa lebih bersifat eksploratif dan produktif guna mengasah kesadaran peserta didik.
“Namun, dapat diarahkan pada kegiatan reflektif dan eksploratif melalui proyek pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran peserta didik terhadap keluarga, alam, dan lingkungan sekitarnya,” katanya.
Selain itu, penugasan diberikan sebagai penguatan bagi peserta didik yang belum mencapai kompetensi minimal, dengan proporsi 60 persen dari durasi tatap muka, dan dioptimalkan pelaksanaannya di sekolah melalui pembelajaran remedial.
Setelah jam pembelajaran efektif, di samping kegiatan yang diarahkan sekolah, dapat juga digunakan untuk pengembangan minat dan bakat para siswa, seperti membantu orang tua di rumah serta lingkungan sekitar.
Pengembangan minat dan bakat sesuai dengan tumbuh kembang peserta didik dalam berbagai bidang, misalnya keagamaan, kesenian, teknologi, olahraga, sains, kewirausahaan, dan ekstrakurikuler untuk penguatan karakter dan kompetensi siswa.
Dinas Pendidikan Jawa Barat akan menugasi kepala cabang dinas pendidikan agar menyosialisasikan dan mendampingi pelaksanaan surat edaran tersebut pada seluruh SMA/SMK/SLB di masing-masing wilayah.
“Kepala cabang dinas pendidikan agar menugaskan pendamping satuan pendidikan untuk melaksanakan pemantauan edaran tersebut dan melaporkannya kepada kepala cabang dinas pendidikan wilayah,” ucapnya.
Tanggapan Pengamat Pendidikan
Pengamat pendidikan, Doni Kusuma, mengatakan bahwa dirinya menganggap penghapusan PR siswa di sekolah Jabar adalah tindakan yang keliru.
“Menghilangkan PR menurut saya itu sebuah kekeliruan dalam pendagogi pembelajaran karena PR itu menerapkan fungsi yang berbeda,” ujar Doni dikutip dari Kompas.com, Senin (9/6/2025).
Doni menjelaskan, peran atau fungsi PR adalah untuk mengulang kembali pelajaran yang diajarkan dari pagi hingga siang di sekolah.
“Setelah siswa 6 jam belajar di sekolah, supaya tidak lupa itu harus mengulang, mengulang tujuannya untuk menguatkan memori anak untuk mempelajari mata pelajaran tertentu,” jelasnya.
Doni menyampaikan, jika tidak ada pengulangan atau PR, maka dikhawatirkan apa yang diajarkan dari pagi hingga siang di sekolah akan lupa di malam harinya.
Itulah mengapa idealnya PR diberikan dan dikerjakan di malam hari agar siswa bisa mengingat kembali pelajaran di sekolah.
“Jadi dampak positifnya PR itu mampu menjaga lebih lama memori ingatan,” imbuhnya.
Selain itu, Doni memaparkan, tidak melihat dampak negatif dari sistem pengulangan lewat penugasan PR.


















































































































Komentar Terbaru