Dedi mengatakan akan menyelamatkan pendidikan anak-anak Jawa Barat dan lainnya. Ia mengaku siap dan rela untuk dihujat oleh masyarakat atau warganet.
Ia menyebut hujatan dan kritikan tersebut muncul saat dirinya mengambil kebijakan menambah murid dalam satu kelas menjadi 50 orang untuk mengurangi angka putus sekolah. Dedi menyebut kebijakan tersebut bersifat tentatif dan apabila di wilayah tertentu khususnya terpencil kekurangan sekolah.
Dengan begitu, ia mengatakan anak-anak di sekitar sekolah dengan radius jauh bisa mendaftar ke sekolah tersebut. Sedangkan dengan daerah yang banyak sekolah maka tidak perlu menambah murid.
Dedi mencontohkan apabila kuota di salah satu SMA negeri sebanyak 480 siswa. Sedangkan yang mendaftar 500 orang maka ke 20 siswa dapat dimasukkan ke sekolah.
“Banyak orang yang menggoreng narasi penambahan jumlah murid maka banyak yang salah persepsi,” kata dia.
Ia menjanjikan tiga tahun ke depan Jawa Barat nol persen anak putus sekolah. Terkait sekolah swasta yang terdampak kebijakan tersebut, Dedi menyebut akan mengumpulkan sekolah swasta membahas soal kekurangan murid.
Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) termasuk salah satu yang mengkritisi kebijakan jumlah siswa per kelas di sekolah menengah atas menjadi 50 orang. Sekjen FSGI Fahriza Marta Tanjung memandang kebijakan tersebut dapat mempengaruhi kualitas belajar mengajar.
“Jelas sangat mempengaruhi kualitas pembelajaran. Bagaimana mungkin seorang guru bisa melaksanakan pembelajaran dan penilaian dengan baik jika siswa yang dihadapi sampai 50 orang dalam 1 kelas,” kata Fahriza kepada Republika, Senin (14/7/2025).
Fahriza mencontohkan satu guru PKN dengan jam mengajarnya 2 jam pelajaran (JP) per kelas karena untuk memenuhi syarat minimal JP maka harus mengajar 12 kelas. Sehingga diperoleh syarat minimal 24 JP.
“Jika siswa 36 per kelas maka ia akan berhadapan dengan 432 siswa dalam 1 minggu. Jika siswa 50 per kelas maka ia akan berhadapan dengan 600 siswa dalam 1 minggu,” ujar Fahriza.
Oleh karena itu, Fahriza meragukan efektivitas kebijakan tersebut. Fahriza khawatir dampaknya malah membuat proses belajar mengajar menjadi sia-sia.
“Bagaimana mau membelajarkan siswa dengan baik? Padahal sesuai dengan kurikulum sekarang, guru harus mengenali karakter siswa secara individu, membelajarkan dan memberikan penilaian juga orang per orang. Kalau sudah seperti ini posisi guru sangat memprihatinkan,” ucap Fahriza.


















































































































Komentar Terbaru