UPDATE

OPINI
OPINI

Menyandingkan Posisi Pemimpin Eropa Terhadap Ukraina Dengan Para Pemimpin Arab Terhadap Palestina

Sebagaimana kita pahami bahwa Ukraina merupakan pintu gerbang Eropa. Negara-negara Eropa menyaksikan Rusia menginvasi negara tetangganya yang mereka klaim sebagai bagian dari “Rusia Raya”. Jika Rusia berhasil merebut Krimea, lalu meluas ke Dombas  maka Uni Eropa khawatir akan ada pendudukan bertahap ke seluruh Ukraina, termasuk kemungkinan Rusia memasuki Estonia dan berlanjut ke Latvia,  Maka kondisi ini menjadi ancaman yang serius bagi  Inggris dan Uni Eropa. Oleh sebab itu sudah waktunya menghentikan Rusia yang ekspansionis ini.

Di sisi lain sikap lunak Trump di hadapan para pemimpin Eropa, yang seharusnya menjadi sekutunya, sementara pada saat yang sama menjalin komunikasi yang hangat dengan Putin, nyatanya bukanlah tindakan cerdas melainkan sebuah kecerobohan. Perang  Ukraina-Rusia sejatinya bukanlah peperangan antara Putin dengan Zalensky, karena Zalensky hanyalah proxy yang dimainkan oleh Amerika untuk menantang Rusia.

Advertisements
Selamat Hari Tentara Nasional Indonesia ke-81

Sejatinya Amerika telah kelimpungan dalam beberapa perang proxy yang dimainkannya bersamaan. Dimulai dari Perang Israel terhadap Palestina, dimana Amerika mendukung penuh genosida Israel dan masih mempersenjatai negara Yahudi hingga hari ini. Dilanjutkan dengan manuver yang dimainkannya melalui perang Pakistan-India, termasuk perang Ukraina dengan Rusia. Amerika menginginkan menyudahi kesombongannya di hadapan Putin dan Uni Eropa secara elegan dengan perdamaian sepenuhnya tanpa syarat karena telah kelimpungan menanggung biaya perang yang tidak murah.

Adapun para pemimpin negara-negara Arab, mereka hidup berhadapan dengan penjajahan yang menimpa saudara seiman mereka, rakyat Palestina. Mereka menyaksikan langsung kebiadaban Israel sebagai sebuah bencana kemanusiaan yang kebrutalannya melampaui kebrutalan perang manapun yang pernah terjadi sebelumnya di dunia. Mereka menyaksikan dentuman jutaan ton bom diledakkan di Gaza, mereka mendengar pekik ketakutan rakyatnya, menyaksikan tubuh-tubuh yang suci hancur lebur, terkoyak dan berserakan dalam puing-puing.

Namun mereka diam membisu dan terang-terangan menampakkan keberpihakannya kepada Israel. Meskipun pilihan ini jelas-jelas bukan demi kepentingan keamanan mereka sendiri, bukan untuk melindungi dirinya dari ancaman yang mereka hadapi. Mereka membisu demi kepentingan Amerika dan sekutu-sekutu Baratnya di Timur Tengah.

Padahal mereka mendengar dengan jelas para pemimpin penjajah secara terbuka berbicara tentang proyek besar mereka “Israel Raya” yang jelas-jelas mengancam wilayah negara mereka. Situs Mondoweiss Amerika menerbitkan artikel karya jurnalis dan penulis Palestina, Qassam Maadi, yang menelusuri istilah “Israel Raya” di kalangan Yahudi ekstrimis sebagai gerakan zionis selama berabad-abad. Istilah ini merujuk pada gagasan negara Yahudi yang meluas ke sebagian besar wilayah Timur Tengah, sebagai perwujudan dari tanah yang dijanjikan Tuhan yaitu tanah “dari Sungai Nil hingga Sungai Eufrat.” Dengan kata lain “Israel Raya” mencakup seluruh Arab itu sendiri.

image_print

1 2 3 4

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.