UPDATE

Salam.life
EDUKASI
EDUKASI

Kisah Haru Nurul, Potret Perjuangan Kakak Menjemput Ijazah Sang Adik di Wisuda USK

Nurul lalu menghubungi teman-teman yang mendampingi. Beberapa jam kemudian, Fachrul kembali memberi kabar, “Adek sudah enakan, Kak.”

Sahabatnya, Aska, mengonfirmasi Fachrul sudah lepas infus dan dokter mengatakan ia cukup sehat untuk beristirahat. Ia bahkan sempat makan makanan yang dibawakan temannya.

Namun menjelang magrib, perawat menemukan Fachrul sudah tidak sadarkan diri. Lima menit kemudian, Aska kembali menghubungi kakaknya dengan kabar memilukan.

“Kak, Fachrul sudah tidak ada. Kakak harus banyak sabar dan berdoa, ya.”

Saat itulah jantung Nurul berdegup kencang. Dunia seakan runtuh.  Nurul pun seketika tak kuasa menahan air matanya. Semua kenangan tentang Fachrul pun menguap dalam kepalanya.

Nurul ingat bagaimana ketika kecil dulu, dialah yang memandikan Fachrul. Nurul mendukung penuh cita-citanya untuk menjadi dokter. Ia membantu semampunya. Sebab setelah ibunya meninggal, Nurul berjanji untuk menjaga adik-adiknya termasuk Fachrul sampai berhasil. Bahkan pesan terakhir ibunya menjelang ajal selalu terngiang: “Jaga Fachrul. Bantu dia kuliah. Dia pintar dan punya cita-cita jadi dokter,” Nurul kembali berlinang air mata saat mengenang kalimat itu.

Setelah itu, Nurul dan suaminya bahu membahu mengusahakan pendidikan Fachrul, menyemangatinya di tengah kekhawatiran biaya, dan meyakinkannya bahwa mereka akan selalu ada untuknya.

Kini, impian Fachrul untuk diwisuda telah terwujud, meski tanpa kehadirannya secara fisik. Saat namanya dipanggil di atas panggung Gedung AAC Dayan Dawood, suasana menjadi sunyi. Nurul naik dengan langkah gontai, matanya sembab, menggenggam erat ijazah sang adik.

Ijazah itu bukan sekadar dokumen akademik, melainkan bukti dari cinta, pengorbanan, dan janji seorang kakak kepada adik tercinta sekaligus kepada ibunya yang telah tiada.[]

1 2

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.