UPDATE

OPINI
OPINI

Hutan Baru Dianggap Penting setelah Korban Tembus 1.003 Jiwa

Belum puas, Menteri Kehutanan ikut unjuk ketegasan. Dua puluh izin pemanfaatan hutan seluas tujuh ratus lima puluh ribu hektare akan dicabut karena “kinerjanya buruk”. Bukan karena hutan mati. Bukan karena sungai berubah jadi algojo massal. Tapi karena kinerja.

Langkah tegas ini diambil tepat setelah seribu tiga orang meninggal. Timing-nya rapi, seperti pemadam kebakaran yang datang setelah api berubah jadi abu.

Advertisements
Selamat Hari Tentara Nasional Indonesia ke-81

Moratorium diberlakukan. Investigasi di dua belas lokasi berjalan. Penegakan hukum dikoordinasikan. Bahasa-bahasa negara yang terdengar kokoh dan berwibawa.

Sayangnya, semua itu muncul setelah gelondongan kayu hanyut bersama mayat, setelah tanah longsor lebih dulu menagih korban.

Kita pun diminta lega. Katanya perusahaan perusak hutan mulai “disikat satu per satu”. Satu per satu, gam. Pelan. Sabar. Seolah korban bisa antre menunggu keadilan. Seolah seribu tiga nyawa itu sekadar angka pemanasan sebelum kebijakan serius benar-benar diterapkan.

Maafkan kami, para korban. Kami baru peduli setelah kalian mati. Kami baru tegas setelah rumah kalian rata. Kami baru ribut setelah alam berubah jadi senjata.

Kini kami sibuk menghitung hektare hutan yang akan dicabut izinnya, sambil sesekali menengok klasemen SEA Games, bangga pada medali emas, sambil menutup mata dari lumpur yang masih mengubur cerita manusia.

Seribu tiga nyawa melayang, dan kita masih menyebut ini musibah. Padahal ini hasil. Hasil dari izin yang ditandatangani sambil tersenyum, dari hutan yang dianggap angka, dari kesadaran yang selalu datang terlambat. Tragis? Jelas. Menyedihkan? Pasti. Manusiawi? Terlalu manusiawi, sampai kita lupa bahwa alam juga punya batas kesabaran.

Hutan gundul tinggal cerita

Sungai meluap bawa nestapa

Medali emas kita bersorak ria

Seribu nyawa hilang tak terbaca

Kayu hanyut ke muara sepi

Lumpur naik menutup halaman

Podium tinggi negeri dirayai

Tenda pengungsi jadi halaman depan

Izin diteken tinta berkilau

Alam runtuh kian membara

Klasemen naik hilang galau

Kubur massal sunyi tanpa suara

**). Penulis adalah Ketua Satupena Kalbar

image_print

1 2
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.