Oleh: Rosadi Jamani**
KITA kembali menengok saudara kita yang tertimpa bencana tanda tangan di tanah Sumatera. Update terkini, sudah 1.003 jiwa meninggal.
Al Fatihah untuk seluruh korban. Ketika korban sudah mencapai seribu lebih, barulah pemerintah memandang pentingnya hutan. Perusahan perusak lingkungan mulai disikat satu per satu.
1.003 orang mati di Sumatera. Angka yang ditulis rapi, lurus, sopan, mirip laporan laba rugi perusahaan tambang. Seribu tiga. Bukan typo. Bukan salah hitung. Seribu tiga nyawa diseret lumpur dan air bah, tenggelam bersama dosa panjang yang selama ini kita sebut pembangunan.
Di balik angka itu ada anak yang tak sempat dewasa, ibu yang tak sempat pamit, bapak yang tak sempat menarik gaji terakhir. Rumah-rumah hilang, bukan pindah alamat, tapi pindah alam.
Hampir seribu orang lain mengungsi. Tidur di tenda tipis, beralas tanah basah, ditemani hujan yang bunyinya seperti pengingat dosa yang jatuh berulang. Mereka tak lagi sibuk menunggu bantuan. Mereka hanya berharap malam ini tidak ikut jadi angka baru besok pagi.
Bantuan tentu datang. Datang dengan gaya pidato kenegaraan. Puluhan ton beras, ribuan selimut, ratusan toilet portabel, dapur umum yang katanya bisa memasak ratusan ribu bungkus nasi sehari. Di berita, semua tampak megah.
Di posko terpencil, masih ada ibu membagi satu telur untuk tiga anak. Masih ada lansia menggigil tanpa obat. Masih ada bayi menangis karena susu telat datang. Rp80 miliar dari Kemensos, kata siaran pers. Angka besar, sampai kita sadar, tak satu pun dari seribu tiga nyawa itu bisa ditebus, bahkan dengan stimulus rumah rusak berat enam puluh juta rupiah per kepala keluarga.
Tapi jangan larut dalam duka, lae. Ada kabar baik. Per 14 Desember 2025 pukul 15.30 WIB, Indonesia berada di peringkat kedua klasemen sementara SEA Games 2025 dengan 32 medali emas.
Luar biasa. Negeri ini tetap berlari kencang di arena olahraga, meski di arena kehidupan, rakyatnya sedang berjuang bertahan dari banjir dan longsor. Kita boleh bangga, di saat alam runtuh dan manusia hanyut, bendera tetap berkibar gagah di podium.
Negara pun hadir dengan gaya heroik. Menteri Lingkungan Hidup mencabut persetujuan lingkungan delapan perusahaan. Delapan! Perusahaan yang selama ini membabat hutan seperti membersihkan halaman rumah sendiri.
Di Batang Toru, tiga sampai empat raksasa, PT Agincourt Resources, PTPN III, North Sumatera Hydro Energy, dihentikan operasionalnya. Tapi tenang, ini hanya sementara. Mau audit lingkungan ketat, katanya. Sementara, wak. Alam boleh rusak puluhan tahun, perusahaan cukup istirahat sejenak.































































































Beri Komentar