“Hal ini membuktikan bahwa masyarakat Aceh telah teruji ketahanannya. Karena itu, diharapkan pemerintah pusat dapat memberikan perhatian ekstra terhadap pembangunan kembali Aceh. Terlebih pada masa perang kemerdekaan, Aceh menjadi daerah penopang eksistensi Indonesia ketika pusat pemerintahan telah diambil alih oleh Belanda dan bahkan Bukittinggi pun sempat dikuasai,” ungkapnya.
Katanya, saat itu, hanya Aceh yang masih bertahan dan melalui Radio Rimba Raya menyampaikan kepada dunia bahwa Indonesia masih ada, karena masih terdapat wilayah yang belum tersentuh penjajah, yaitu Aceh.
Diisi Seminar dan Pameran
Musyawarah itu diawali dengan kegiatan seminar dan pameran karya arsitektur dari berbagai arsitek terbaik.
Seminar kebencanaan itu menghadirkan pembicara, yaitu Budi Pradono, dari STAR Arsitek Indonesia, Gayuh Budi Utomo dari Satgas Bencana IAI, serta Winardi Aramiko dari Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA).
Lalu selama dua hari, 6–7 Februari 2026, karya arsitektur kebencanaan dipamerkan kepada publik.
Agenda utama acara Musprov tersebut adalah melakukan pemilihan Ketua IAI Aceh.
Dalam proses musyawarah itu, Ar Said Husain IAI yang merupakan ketua periode sebelumnya, kembali dipercayakan melanjutkan tugasnya memimpin organisasi profesi arsitek tersebut.
Irwansyah ST berharap kedepan akan semakin tercipta kolaborasi antara arsitek dengan wakil rakyat, demi kota yang tertata, manusiawi dan berkelanjutan. []































































































