Tarif setinggi ini praktis menutup akses pasar AS bagi produk Indonesia, karena biaya tambahan membuat harga menjadi tidak kompetitif.
Beberapa analis memperkirakan penurunan ekspor panel surya ke AS bisa mencapai puluhan persen, memengaruhi pendapatan perusahaan seperti PT Blue Sky Solar dan PT REC Solar Energy.
Di sisi lain, pasar saham Indonesia juga tertekan, dengan indeks komposit melemah akibat sentimen negatif dari kebijakan ini.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM dan Kementerian Perdagangan sedang mengevaluasi langkah selanjutnya.
Ada indikasi bahwa sebagian produk yang diekspor ke AS mungkin hanya melibatkan pelabelan ulang (transshipment), bukan produksi penuh di Indonesia, sehingga Kementerian ESDM berencana melakukan investigasi mendalam.
Dewan Energi Nasional (DEN) juga menyatakan bahwa lonjakan impor panel surya ke AS dari Indonesia sebelumnya memang signifikan, tapi kebijakan ini dianggap sebagai bagian dari strategi proteksi Trump yang lebih luas.
Secara paralel, DOC masih menyelidiki tuduhan anti-dumping (penjualan di bawah biaya produksi), dengan keputusan awal diharapkan sekitar April 2026 dan final pada September 2026. Jika tarif anti-dumping ditambahkan, beban total bisa jauh lebih tinggi.
Kebijakan ini muncul di tengah hubungan bilateral yang baru saja diperkuat melalui perjanjian perdagangan timbal balik (reciprocal trade agreement) antara Indonesia dan AS, di mana Indonesia membuka akses impor komoditas pertanian AS senilai miliaran dolar.
Namun, langkah tarif ini menunjukkan bahwa proteksionisme Trump tetap dominan, terutama di sektor strategis seperti energi terbarukan.
Bagi Indonesia, ini menjadi tantangan untuk memperkuat rantai pasok domestik, diversifikasi pasar ekspor (misalnya ke Eropa atau Asia), dan memastikan subsidi industri tidak melanggar aturan WTO.
Secara keseluruhan, tarif 104% ini bukan hanya soal panel surya, melainkan sinyal bahwa era perdagangan bebas semakin tergeser oleh prioritas “America First“. Indonesia perlu respons cepat dan strategis agar industri hijau nasional tidak terpuruk di tengah ambisi transisi energi global.

















































































































Komentar Terbaru