Selain itu kilang Mina al-Ahmadi di Kuwait juga diserang. Kuwait Petroleum Corporation mengatakan kebakaran terjadi setelah sebuah drone menghantam unit operasional di kilang Mina al-Ahmadi, sekitar 50 km selatan Kota Kuwait. Insiden tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Kilang Mina Abdullah di Kuwait juga dihantam oleh drone sehingga menyebabkan kebakaran.
Di Uni Emirat Arab, fasilitas gas Habshan dan ladang minyak Bab dihantam. Pihak berwenang di UEA mengatakan mereka menanggapi insiden di fasilitas gas Habshan dan ladang minyak Bab yang disebabkan oleh jatuhnya puing-puing dari rudal yang dicegat. Sejauh ini tidak ada korban cedera yang dilaporkan.
Kilang Samref di Arab Saudi juga kena serangan. Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengatakan sebuah pesawat tak berawak jatuh di kilang Samref milik Saudi Aramco di pelabuhan Yanbu. Kementerian menambahkan bahwa kerusakan sedang dinilai.
Harga minyak dan gas terus meningkat setelah Iran menyerang fasilitas energi di Timur Tengah. Kamis pagi, harga minyak Brent berjangka mencapai 115 dolar AS per barel, tertinggi dalam lebih dari seminggu. Harga gas juga melonjak sebesar 30 persen.
Harga juga kemungkinan akan naik secara signifikan jika Selat Hormuz tetap ditutup, kata pengamat pasar. “Patokan minyak mentah Timur Tengah seperti Oman dan Dubai telah melewati ambang batas 150 dolar AS, jadi 200 dolar AS sudah di depan mata, bahkan jika bukan untuk Brent dan West Texas Intermediate,” Vandana Hari, pendiri penyedia analisis pasar minyak Vanda Insights, mengatakan kepada Aljazirah.
“Seberapa jauh kenaikan harga minyak mentah dari sini hampir seluruhnya bergantung pada berapa lama lagi Selat Hormuz ditutup,” tambah Hari.
Sementara, Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi, dalam sebuah opini di The Economist, memperingatkan bahwa “Amerika telah kehilangan kendali atas kebijakan luar negerinya sendiri”. Ia mengatakan bahwa sekutu Washington harus membantu melepaskannya “dari keterikatan yang tidak diinginkan ini”.
“Dua kali dalam sembilan bulan, Amerika Serikat dan Iran hampir mencapai kesepakatan nyata,” kata Albusaidi. “Sungguh mengejutkan, namun bukan kejutan ketika pada tanggal 28 Februari – hanya beberapa jam setelah perundingan terbaru dan paling substantif – Israel dan Amerika kembali melancarkan serangan militer yang melanggar hukum terhadap perdamaian yang sempat tampak mungkin terjadi.”
Pembalasan Iran terhadap apa yang diklaimnya sebagai sasaran Amerika terhadap negara-negara tetangganya adalah “akibat yang tidak dapat dihindari, namun sangat disesalkan dan sama sekali tidak dapat diterima,” katanya.


















































































































Komentar Terbaru