UPDATE

LINGKUNGAN
LINGKUNGAN

Punya Kemiripan Gen, Bisakah Sapi Bali Menyelamatkan Banteng yang Terancam Punah?

2. Genetik sapi bali dan banteng sangat mirip

Dari sampel banteng yang kami kerjakan, kami menemukan komposisi genetik sapi bali dan banteng tidak terlalu jauh berbeda.

Advertisements
Selamat Hari Tentara Nasional Indonesia ke-81

Hal ini dapat diketahui salah satunya dari indeks fiksasi (FST), yang menunjukkan seberapa banyak alel (variasi gen) yang berbeda dalam suatu populasi terhadap spesies lain.

Semakin mendekati nol, maka spesies semakin mirip. Dari skala 0-1, banteng dan sapi bali memiliki FST dalam kisaran 0,1-0,2. Artinya, genetik keduanya sangat mirip. Sebagai perbandingan, sapi bali dan sapi zebu memiliki FST 0,7.

Dalam beberapa kasus, kami menemukan beberapa populasi yang terisolasi mengalami penurunan variasi gen. Dua contohnya adalah banteng yang dipelihara di kebun binatang di AS dan Inggris dan populasi sapi bali yang sering berkeliaran secara semi-liar atau feral yang terdampar di semenanjung Coburg, Australia dari sejak abad ke-19.

Namun, kami hampir tidak menemukan tanda-tanda percampuran gen dari sapi biasa (misalnya sapi taurin atau zebu) ke dalam banteng, baik yang liar maupun domestik.

Hanya satu populasi sapi bali dari Kupang, Timor Barat, yang menunjukkan sinyal pencampuran gen yang lemah. Kami menemukan dua kasus persilangan baru di Kupang, termasuk satu anak hasil kawin langsung sapi biasa dengan sapi bali—tapi ini pun kasus terbatas, bukan kejadian luas.

Artinya, mayoritas banteng dan sapi bali masih “murni” secara genetik, tidak banyak tercampur dengan sapi biasa.

Potensi sapi bali untuk konservasi banteng

Karena kedekatan genetiknya, kami menganggap sapi bali berpotensi digunakan untuk “menyelamatkan” keberagaman genetik banteng yang kini terancam punah.

Namun, ada beberapa hal penting yang patut kita perhatikan, di antaranya kondisi fisiologis populasi, perilaku, dan kesehatan mereka.

Beberapa populasi sapi bali (di Australia misalnya) memiliki beban genetik tinggi akibat terisolasi cukup lama sejak dimasukkan ke habitat mereka.

Jika populasi semacam ini dilepasliarkan ke habitat alami banteng, mereka bisa menyebarkan beban genetik tersebut dan menurunkan ketahanan populasi banteng liar yang masih tersisa.

Para pakar banyak mendiskusikan dampak negatif pemindahan populasi dengan beban genetik tinggi hasil berbagai penelitian genomik, misalnya dalam kasus kupu-kupu di Kanada atau pada ikan guppy Trinidad terjadi penurunan populasi akibat mutasi gen.

Kita juga perlu mengkaji lebih dalam, apakah populasi banteng yang tengah semakin terpencar di berbagai Taman Nasional di Pulau Jawa misalnya, memiliki keberagaman genetik yang cukup untuk bertahan, dan apakah keberagaman genetik yang ada cocok menerima sumber genetik lain seperti sapi bali.

1 2 3

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.