UPDATE

TIMUR TENGAHINTERNASIONAL

Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Runtuh: Lautan Darah di Libanon, Selat Hormuz Kembali Diblokade

BANDA ACEH — Gencatan senjata dua minggu yang baru saja disepakati antara Amerika Serikat dan Iran, Rabu (8/4/2026) kini berada di ujung tanduk.

Hanya dalam hitungan jam setelah kesepakatan diumumkan pada Rabu, 8 April 2026, gelombang kekerasan dahsyat melanda Libanon.

Lautan darah di Libanon ini memicu ancaman penutupan kembali Selat Hormuz oleh Teheran.

Ketegangan memuncak ketika militer Israel melancarkan lebih dari 100 serangan udara dalam waktu 10 menit ke wilayah Libanon, termasuk Beirut.

Kementerian Kesehatan Libanon melaporkan sedikitnya 254 orang tewas dan lebih dari 1.100 lainnya luka-luka dalam apa yang disebut sebagai hari paling mematikan sejak konflik pecah Februari lalu.

Komisaris Tinggi PBB untuk HAM, Volker Türk, mengecam keras serangan ini sebagai pembantaian yang tidak masuk akal, yang terjadi tepat saat perdamaian baru saja diupayakan.

Perbedaan Interpretasi yang Fatal

Inti dari rapuhnya kesepakatan ini adalah ketidaksepakatan mengenai cakupan wilayah gencatan senjata:

Iran & Pakistan: Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, selaku mediator, menegaskan bahwa kesepakatan mencakup penghentian permusuhan di semua lini, termasuk Libanon. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan AS harus memilih antara gencatan senjata atau melanjutkan perang melalui proksi Israel.

Amerika Serikat & Israel: Presiden Donald Trump dan PM Benjamin Netanyahu bersikeras bahwa Libanon tidak termasuk dalam kesepakatan. Trump menyebut konflik di Lebanon sebagai “bentrokan terpisah” dan menegaskan Israel memiliki hak untuk terus menggempur Hezbollah.

Konflik semakin rumit karena perbedaan tafsir soal cakupan gencatan senjata. Iran bersikeras Lebanon termasuk dalam kesepakatan, sementara AS dan Israel menolaknya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan operasi militer terhadap Hizbullah di Libanon akan terus berlanjut. 

Iran merespons keras. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyebut bola kini di tangan AS dan menuduh Washington melanggar komitmen.

Teheran bahkan mengancam akan kembali ke pertahanan skala penuh jika serangan ke Libanon tidak dihentikan.

Ancaman di Selat Hormuz dan Reaksi Global

Menanggapi serangan Israel, Iran kembali menghentikan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, jalur vital bagi 20 persen pasokan minyak dunia.

Teheran juga mengancam akan mengenakan biaya transit hingga $2 juta per kapal, sebuah langkah yang disebut Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, sebagai tindakan yang sama sekali tidak dapat diterima.

Wakil Presiden AS, JD Vance, memberikan peringatan keras dari Budapest.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.