BANDA ACEH – Tim dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengunjungi Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh Besar (DKP) untuk memperkuat kolaborasi riset di sektor kelautan dan perikanan, Jumat, 10 April 2026. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya eksplorasi pengetahuan lokal dalam pengelolaan tambak garam tradisional di Aceh Besar.
Rombongan BRIN yang dipimpin Dini Purbani disambut Pelaksana Tugas Kepala DKP Aceh Besar, Makmun, di Kota Jantho.
Makmun mengatakan pemerintah daerah telah berupaya meningkatkan kapasitas masyarakat pesisir, namun hasilnya belum signifikan. Ia menyebut salah satu kendala utama adalah kurangnya pendampingan lanjutan sehingga pengetahuan yang diperoleh tidak diterapkan secara konsisten.
Selain itu, menurut dia, kelompok usaha bersama (KUB) masih menghadapi kendala dalam mengakses permodalan atau skema kredit produktif akibat lemahnya tata kelola administratif. Kondisi tersebut membuat petambak kesulitan meningkatkan modal usaha maupun mengadopsi peralatan yang lebih modern.
“Harapan kami, adanya inovasi yang aplikatif dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir,” kata Makmun.
Ia juga berharap pertemuan tersebut dapat segera ditindaklanjuti dalam bentuk program konkret. “Ke depan, kami ingin melihat adanya pilot project atau program percontohan yang bisa langsung dirasakan dampaknya oleh masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, tim BRIN menyatakan kunjungan ini bertujuan menjajaki kebutuhan daerah sekaligus mengidentifikasi peluang riset yang sesuai dengan kondisi lokal. Mereka menekankan pentingnya pendekatan berbasis data dalam perumusan kebijakan di sektor kelautan dan perikanan.
Usai pertemuan, tim BRIN bersama DKP Aceh Besar melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah lokasi tambak garam di wilayah tersebut untuk melihat langsung kondisi dan praktik pengelolaan di lapangan. []
















































































































