UPDATE

OPINI
OPINI

Sekolah Yang Membangun Harapan di Tengah Lumpur

Penulis: Ahmadi M. Isa, M.Pd1

BENCANA banjir dan longsor beberapa bulan yang lalu menyisakan duka dan nestapa bagi sebahagian masyarakat Aceh.

Bencana besar yang menimpa di beberapa Kabupaten masih meninggalkan sisa-sisa kesedihan akibat air bah membawa material lumpur yang menenggelamkan rumah-rumah warga.

Air dari gunung itu bukan hanya membawa lumpur, tapi diikut sertakan kayu-kayu besar yang hampir setiap batangnya tertulis nama-nama penjarah.

Kabupaten Pidie Jaya adalah salah satu Kabupaten terparah akibat bencana pada 26 November 2025 yang lalu.

Rumah warga, jalan, jembatan, bahkan instansi pendidikan seperti sekolah pun tertimbun lumpur dan mengalami kerusakan.

Tercatat ada dua sekolah di Pidie Jaya yang mengalami kerusakan berat, salah satunya SMA Negeri 2 Meureudu.

  Secara geografis SMA Negeri 2 Meureudu terletak di desa Meunasah Bie, Kecamatan Meurah Dua, atau tepatnya 100 meter ke arah selatan dari simpang empat Meurah Dua.

Letak sekolah yang tidak terlalu jauh dengan sungai tentunya menjadi langganan banjir setiap tahun. Kondisi ini juga diperparah dengan sistem drainase yang kurang tertata dengan baik. 

Tahun ini adalah banjir terparah dalam Sejarah berdirinya sekolah tersebut. Semua sarana dan prasarana Pendidikan yang berada di lingkungan sekolah tertimbun lumpur dan rusak. ruang kelas, ruang guru, pustaka, laboratorium IPA, ruang komputer, mushalla dan lapangan olahraga juga ikut tertimbun tanah. Bahkan ada beberapa ruangan yang timbunan lumpurnya sejengkal dengan atap bangunan.

26 November 2025, sehari setelah memperingati hari guru adalah hari kelabu bagi guru dan murid SMA Negeri 2 Meureudu.

Mendung dan hujan lebat yang saban hari mendera kala itu seolah tak sebanding dengan kesedihan guru dan murid melihat air bah menelan semua kenangan-kenangan di sekolah.

Pajangan piala penghargaan, dekorasi dan hiasan kelas, taman-taman kecil di depan kelas, dan karya-karya murid yang terpajang di lemari kayu tertimbun dan hilang tanpa bekas.

Rapor murid dan dokumen-dokumen penting lainnya juga terendam dan tak bisa dipakai.

Musibah itu tidak hanya menimpa sekolah, namun tempat tinggal para murid pun tak luput dari terjangan banjir dan endapan lumpur.

Tercatat sekitar 98 persen murid SMA Negeri 2 Meureudu mengalami dampak banjir tersebut. Bahkan ada beberapa yang rumahnya hanyut dibawa ke muara. 

Dua bulan setelah bencana, awal semester genap tahun Pelajaran 2025-2026 dimulai. Seluruh anak di Indonesia memulai sekolah dengan semangat baru.

Namun tidak dengan murid-murid di Pidie Jaya, terutama murid di SMA Negeri 2 Meureudu.

Mereka hadir ke sekolah di hari pertama tanpa mengenakan atribut lengkap, mereka berjalan melewati genangan air dan lumpur, dan mereka mengawali hari di tempat pengungsian.

Hanya 65 persen yang hadir di hari pertama sekolah saat itu.

 Seiring hari berganti, jumlah murid yang hadir terus bertambah. Seolah peristiwa besar itu tidak pernah merengut semangat dan tekad mereka untuk terus menuntut ilmu.

Guru terus memberi motivasi dengan memberikan isyarat verbal berupa motto “semangat tak pernah kendur walaupun sekolah tertutup lumpur dan tetap bertumbuh walaupun sempat lumpuh”.  

Lewat musibah ini, SMA Negeri 2 Meureudu dikenal secara nasional. Rekan-rekan media mendatangi sekolah dan memberitakan kondisi real sekolah.

Saat itu, media-media local dan nasional menyorot proses pembelajaran yang masih di dalam tenda, di bawah pohon, dan di dalam bangunan bekas banjir.

Hingga pada 21 Januari 2026 Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian beserta jajarannya mengunjungi sekolah dan menjanjikan harapan baru bagi sekolah dengan dibangun kembali gedung-gedung yang rusak serta membangun ruang kelas sementara untuk proses pembelajaran.

Hingga pada 09 Maret 2026 Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti meresmikan ruang kelas sementara untuk proses pembelajaran.

Hingga saat ini support dan dukungan dari pihak luar terus berdatangan ke SMA Negeri 2 Meureudu.

NGO, instansi pemerintah, sekolah-sekolah, kampus-kampus dan pihak swasta secara suka rela memberikan sumbangan moril dan materil kepada sekolah dan para murid.

Bentuk-bantuan tersebut berupa kegiatan trauma healing, sumbangan seragam sekolah, buku tulis dan buku bacaan, Al-Quran serta banyak lagi bantuan yang tentunya sangat mendukung dan membantu sekolah pasca bencana.

Tentu tidaklah mudah mengembalikan mental murid dan keadaan sekolah seperti semula. Namun kekompakan dan kerja keras para guru di SMA Negeri 2 Meureudu terlihat dari lolosnya 8 orang murid kelas XII lewat jalur SNBP dan ada puluhan lainnya yang saat ini sedang berjuang lewat jalur SNBT.

Berbagai event dan perlombaan tetap kami ikuti walaupun keterbatasan sarana dan prasarana, misalnya seleksi paskibraka Kabupaten, OSK (Olimpiade Sain Kabupaten), O2SN (Olimpiade Olahraga Siswa Nasional), Olimpiade Ekonomi Syariah Nasional hingga lolos sebagai finalis, dan beberapa event lainnya.

Walaupun semangat siswa tidak pernah kendur, namun kondisi lingkungan sekolah yang saat ini belum kondusif dapat berpengaruh terhadap minat siswa baru untuk melanjutkan ke SMA Negeri 2 Meureudu.

Maka harapan kami kepada instansi terkait untuk memperketat sistem zonasi secara administratif sebagai syarat mutlak Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).

Jika tidak, maka ditakutkan pada awal tahun pelajaran ke depan calon murid baru akan berkurang secara drastis di SMA Negeri 2 Meureudu.

Pada akhir tulisan ini saya ingin mengutip sebuah ungkapan dari Ki Hajar Dewantara, “Jadikan semua tempat adalah sekolah dan jadikan semua orang adalah guru”.

Tenda berdebu yang murid kami tempati, bersila di bawah pohon mendengarkan pelajaran, belajar di dalam ruang kelas yang sempit, pengap dan panas.

Semua tempat itu adalah sekolah bagi kami para guru dan murid SMA Negeri 2 Meureudu. Tempat ini akan kami jaga sebagai kebun yang menghasilkan buah-buah segar dan dimakan orang untuk menghilangkan rasa lapar akan pengetahuan.

Semoga harapan untuk dibangun kembali sekolah cepat terwujud. Janji kami para guru dan murid akan terus mengawal proses pembangunan sekolah hingga selesai.

  1. Guru SMA Negeri 2 Meureudu[↩]
Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.