Pada akhirnya, polemik Hercules dan Amien Rais bukan sekadar pertengkaran dua tokoh. Ini alarm bagi demokrasi Indonesia.
Kekuasaan perlu sadar bahwa kritik bukan ancaman negara. Kritik justru penanda bahwa demokrasi masih hidup.
Sejarah sudah memberi pelajaran. Reformasi 1998 lahir bukan dari satu ledakan besar, melainkan dari akumulasi kekecewaan yang lama diabaikan.
Awalnya hanya suara-suara kecil. Keluhan rakyat. Kemarahan mahasiswa. Kritik intelektual. Namun ketika semua itu berkumpul, kekuasaan sebesar apa pun bisa goyah.
Karena itu, ancaman terhadap kritik tidak boleh dinormalisasi.
Sebab demokrasi sering runtuh bukan ketika rakyat mulai marah, tetapi ketika penguasa berhenti mendengar.***































































































Beri Komentar