UPDATE

Salam.life
NASIONAL
NASIONAL

Trump Batal Serang Iran, Sebut Kesepakatan Tercapai

Dia menambahkan bahwa Iran telah menyetujui sebagian besar rancangan teks perjanjian potensial, namun mengklaim AS telah berulang kali mengubah posisinya. Teheran, kata Baghaei, tetap teguh pada “garis merahnya”.

Salah satu garis merah Iran adalah serangan Israel ke Lebanon. Tahapan gencatan senjata permanen, menurut Teheran, harus menyertakan penghentian serangan tersebut.

Namun hingga Kamis malam, serangan masih terus terjadi. Tentara Israel melakukan serangkaian serangan baru di Lebanon selatan, menargetkan distrik Nabatieh, Tyre dan Bint Jbeil, menurut Kantor Berita Nasional Lebanon. Serangan tersebut melanda Nabatieh, Chaqra dan Zibqin serta pinggiran al-Abbassieh.

“Belum ada yang berubah,” Ali Akbar Dareini dari Pusat Studi Strategis di Teheran, mengatakan kepada Aljazirah.

Dari sudut pandang Iran, pertama-tama AS perlu mengambil langkah-langkah membangun kepercayaan sebelum negosiasi dilakukan dan sebelum Iran siap untuk membicarakan masalah nuklir.

“Hal itu tidak terjadi. Dan kenyataan di lapangan menunjukkan kepada kita bahwa Amerika tidak mengambil tindakan untuk meredakan ketegangan. Dari sudut pandang Iran, Iran tidak menyerah pada pemaksaan. Jadi saya punya banyak alasan untuk tidak mempercayai apa yang dikatakan Trump sebagai perkembangan nyata.”

Perjalanan AS dan Iran masih panjang meskipun ada kemungkinan kesepakatan, kata mantan Jenderal Angkatan Darat AS Mark Kimmitt kepada Aljazirah. “Kita harus menyadari bahwa ini bukanlah sebuah kesepakatan. Ini hanya sebuah MoU yang diperlukan untuk mengakhiri konflik yang ada saat ini,” ujarnya.

“Jadi hal ini akan menghentikan konflik, akan membuka Selat Hormuz, dan akan menjadi uang muka untuk negosiasi lebih lanjut. Namun kita belum mendengar rincian atau bagian sulitnya.”

Meskipun terjadi serangan militer baru-baru ini, Amerika dan Iran sama-sama mencari cara untuk mengakhiri perang, kata Zahid Mehmood, pensiunan mayor jenderal angkatan darat Pakistan. Dia mengatakan kepada bahwa Teheran berada di bawah tekanan ekonomi yang “luar biasa” sementara Trump menghadapi tekanan Politik di AS, di mana perang tersebut sangat tidak populer. 

“Anda tidak bisa membiarkan Hormuz diblokir lebih lama lagi seperti ini… jadi mereka harus menciptakan insentif satu sama lain dan mengambil kesempatan ini, jalan keluar ini, yang telah diberikan Pakistan kepada mereka,” kata Mehmood.

Koresponden Aljazirah di Gedung Putih juga melaporkan, ada tekanan politik dari rekan-rekan Trump dari Partai Republik, yang khawatir akan dampaknya terhadap popularitasnya. Mereka khawatir bahwa dampak perang ini akan terus berlanjut hingga pemilu paruh waktu pada bulan November. 

image_print
1 2 3
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.