BANDA ACEH – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Besar terus berupaya menanamkan kecintaan generasi muda terhadap budaya daerah melalui pelestarian permainan tradisional. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital yang membuat anak-anak semakin akrab dengan gawai, Pemkab Aceh Besar mengajak mereka kembali mengenal berbagai permainan tradisional yang sarat nilai edukasi, kebersamaan, dan pembentukan karakter melalui Festival Permainan Tradisional yang digelar di Lapangan Bola Kaki Desa Lubok Sukon, Kecamatan Ingin Jaya, Sabtu (25/7/2026).
Selain memperkenalkan kembali permainan tradisional, kegiatan tersebut juga menjadi ruang interaksi sosial bagi anak-anak agar dapat berkomunikasi, bekerja sama, dan berkompetisi secara sehat tanpa bergantung pada perangkat elektronik.
Beragam permainan tradisional diperkenalkan dengan memanfaatkan bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan di sekitar. Tepung atau kapur digunakan untuk permainan galah (hadang), tali dimanfaatkan untuk permainan tarek taloe, papan dan ban bekas dijadikan permainan terumpah panyang (bakiak panjang), sementara kayu, bambu, dan pelepah pinang digunakan untuk permainan egrang dan tarik situek.
Asisten III Sekretariat Daerah Kabupaten Aceh Besar, Abdullah, S.Sos, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Aceh Besar dalam menjaga warisan budaya sekaligus membentuk karakter generasi muda melalui aktivitas yang positif.
“Perkembangan teknologi tentu tidak dapat kita hindari, namun kita juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan anak-anak tetap mengenal akar budayanya sendiri. Permainan tradisional bukan sekadar hiburan, tetapi juga media pendidikan yang mengajarkan kerja sama, sportivitas, kejujuran, serta melatih kreativitas dan kemampuan bersosialisasi,” ujar Abdullah.
Menurutnya, penggunaan gawai secara berlebihan berpotensi mengurangi interaksi sosial anak serta aktivitas fisik yang sangat dibutuhkan pada masa pertumbuhan. Karena itu, pemerintah daerah terus mendorong berbagai kegiatan yang mampu mengajak anak-anak lebih aktif bermain di luar ruangan sekaligus mengenal budaya lokal.
Abdullah menambahkan, pelestarian permainan tradisional tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan dukungan keluarga, sekolah, dan masyarakat agar warisan budaya tersebut tetap hidup di tengah perubahan zaman.
“Kami berharap orang tua dan guru dapat terus mengenalkan permainan tradisional kepada anak-anak. Melalui permainan sederhana inilah nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, rasa saling menghormati, dan semangat persaudaraan dapat tumbuh sejak dini. Budaya akan tetap lestari apabila diwariskan secara langsung kepada generasi penerus,” tambahnya.

















































































































