Menurutnya, harga semen di Aceh saat ini mencapai sekitar Rp120.000 per sak. Kondisi itu dinilai memberatkan masyarakat, terlebih di tengah meningkatnya kebutuhan material bangunan untuk perbaikan pascabencana.
Syech Muharram menilai persoalan tersebut perlu mendapat perhatian pemerintah pusat mengingat semen diproduksi di Aceh, namun harganya justru lebih mahal dibandingkan daerah lain.
“Kita punya semen, produksinya di daerah kita, biaya transportasi juga lebih rendah, tetapi harganya justru lebih mahal dibandingkan Medan. Seakan-akan Medan menjadi anak kandung, sementara Aceh menjadi anak tiri,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah pusat memberikan perhatian yang lebih proporsional kepada Aceh Besar, khususnya dalam pemulihan infrastruktur pertanian dan sistem pengairan.
Menurutnya, dukungan anggaran sangat dibutuhkan agar sektor pertanian tetap produktif sekaligus membantu pemerintah daerah menghadapi ancaman kekeringan yang kini mulai berdampak di berbagai wilayah.
“Dengan anggaran yang digelontorkan ke Aceh yang begitu besar, tolong perhatikan juga Aceh Besar,” pungkasnya.
Sebelumnya, FGD tersebut dipandu Kepala Posko Satgas Wilayah Aceh, Dr. Safrizal ZA, M.Si., yang menekankan pentingnya memperkuat koordinasi antara pemerintah daerah dan instansi terkait dalam mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, khususnya pada sektor pertanian, sistem pengairan, dan daerah aliran sungai.
“Koordinasi menjadi hal yang sangat penting dalam mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Penanganan harus dilakukan secara terpadu agar setiap persoalan, terutama yang berkaitan dengan pertanian, irigasi, dan sungai, dapat ditangani secara tepat dan cepat,” kata Safrizal.***






























































































Beri Komentar