Kontribusi terbesar Pakistan terhadap kekuatan kolektif Pakta Makkah adalah kemampuan militernya yang besar dan statusnya sebagai satu-satunya negara mayoritas Muslim yang memiliki senjata nuklir.
Menurut Global Firepower 2026, Pakistan memiliki sekitar 660 ribu personel aktif, 550 ribu pasukan cadangan dan 500 ribu pasukan paramiliter. Negara tersebut juga memiliki 1.397 pesawat, termasuk 331 pesawat tempur, 2.677 tank, 652 sistem roket artileri, serta delapan kapal selam.
Reuters memperkirakan Pakistan memiliki sekitar 170 hulu ledak nuklir. Namun, penting dicatat, Pakta Makkah tidak secara eksplisit menyatakan bahwa senjata nuklir Pakistan otomatis ditempatkan di bawah komando bersama atau akan digunakan untuk membela anggota lain. Karena itu, kemampuan nuklir Pakistan lebih tepat disebut sebagai faktor deterrence strategis yang berpotensi mengubah perhitungan lawan, bukan sebagai senjata yang otomatis menjadi bagian dari operasi militer gabungan.
Inilah perbedaan paling penting jika Turki dibandingkan dengan Israel. Israel secara luas diyakini memiliki kemampuan nuklir, meski tidak pernah secara resmi mengakui maupun menyangkalnya. Sementara itu, Pakistan secara terbuka memiliki senjata nuklir. Dengan masuknya Pakistan dalam kerangka pertahanan bersama Makkah, kalkulasi strategis terhadap Turki dan dua sekutunya menjadi jauh lebih kompleks.
Arab Saudi memberikan dimensi lain bagi kekuatan kolektif tersebut. Global Firepower menempatkan Arab Saudi di peringkat ke-25 dunia pada 2026, dengan 247 ribu personel aktif dan 150 ribu personel paramiliter. Riyadh juga memiliki 917 pesawat, termasuk 283 pesawat tempur, 81 pesawat serang, 22 pesawat tanker serta 34 helikopter serang.
Keunggulan Arab Saudi bukan hanya pada jumlah persenjataan. Anggaran pertahanan Riyadh menurut Global Firepower mencapai sekitar 64 miliar dolar AS, jauh lebih besar daripada anggaran pertahanan Pakistan yang sekitar 9,1 miliar dolar AS.
Kondisi tersebut membuat Arab Saudi memiliki kemampuan untuk menjadi penopang finansial dan logistik bagi kerja sama pertahanan tiga negara. Jika kerja sama industri pertahanan yang dijanjikan dalam Pakta Makkah berjalan, sumber daya finansial Saudi dapat dipadukan dengan industri pertahanan Turki dan pengalaman serta kemampuan militer Pakistan.
Dalam konfigurasi tersebut, posisi Turki menjadi sangat strategis.
Turki merupakan anggota NATO dan memiliki industri pertahanan domestik yang berkembang pesat. Ankara memiliki kemampuan dalam produksi kendaraan lapis baja, drone, kapal perang, rudal, sistem elektronik serta berbagai platform militer lainnya.































































































Beri Komentar