Hal serupa disampaikan oleh Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), Wijaya, dalam kegiatan promosi di Jakarta pada Mei.
“Target Indonesia dalam CAEXPO kali ini adalah mencapai kerja sama dalam skala yang lebih besar, terutama di bidang ekonomi digital, teknologi hijau, dan industri manufaktur masa depan.”
KADIN juga mendorong partisipasi perusahaan Indonesia pada tingkat yang lebih tinggi. Melalui pameran ini, para pelaku usaha dapat memperkenalkan produk secara langsung kepada calon pembeli dari Tiongkok maupun negara-negara ASEAN, sekaligus menjajaki akses ke pasar yang lebih luas.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa bagi perusahaan Indonesia, CAEXPO semakin dipandang sebagai salah satu jalur bisnis yang dapat dimanfaatkan secara rutin untuk memasuki pasar Tiongkok, bukan sekadar kesempatan promosi yang dicoba sesekali.
Tentu saja, arti penting CAEXPO tidak hanya terbatas pada Indonesia.
Tahun ini menandai lima tahun terjalinnya Kemitraan Strategis Komprehensif Tiongkok-ASEAN. CAEXPO juga menjadi ajang pertama bagi Timor-Leste untuk berpartisipasi sebagai anggota resmi ASEAN, sehingga untuk pertama kalinya seluruh 11 negara anggota ASEAN hadir bersama di Nanning.
Vietnam kembali berpartisipasi dengan paviliun tersendiri, sementara Thailand menghadirkan 100 perusahaan. Filipina, yang menjadi negara kehormatan tahun ini, mengirimkan salah satu delegasi terbesarnya dalam beberapa tahun terakhir.
Di seluruh area pameran ASEAN, perubahan komposisi produk semakin terlihat. Durian, kopi, dan furnitur kayu berkualitas tetap menjadi daya tarik, tetapi kini berdampingan dengan teknologi AI, solusi rendah karbon, ekonomi hijau, serta komunikasi digital.
Perubahan ini menunjukkan bahwa hubungan ekonomi ASEAN-Tiongkok tengah bergerak menuju bentuk kerja sama yang semakin beragam dan berorientasi pada pengembangan industri.
Sebagian media di luar kawasan kerap membingkai semakin eratnya hubungan ASEAN dengan Tiongkok sebagai bentuk perluasan pengaruh geopolitik, seolah-olah negara-negara ASEAN sedang dihadapkan pada pilihan untuk berpihak kepada salah satu kekuatan besar.
Namun, situasi di lantai pameran Nanning memperlihatkan perspektif yang lebih praktis.
Para pelaku usaha Indonesia terlihat bernegosiasi dengan calon pembeli menggunakan bahasa Mandarin. Perusahaan Vietnam memperkenalkan inovasi AI mereka, sementara peserta Thailand dengan antusias menawarkan sampel produk kepada pengunjung.
Bagi para pelaku usaha tersebut, pertimbangan utama dalam mengikuti pameran bukanlah narasi geopolitik, melainkan peluang mendapatkan pesanan, akses teknologi, perluasan pasar, dan keuntungan bisnis yang dapat diukur.


































































































Komentar Terbaru