UPDATE

BISNISEKONOMI

CAEXPO: Perusahaan Indonesia Ubah Peluang Tiongkok Jadi Profit Nyata

Seorang pejabat Kedutaan Besar Indonesia di Tiongkok, dalam percakapan informal, menyampaikan pandangan yang mencerminkan hal tersebut:

“CAEXPO merupakan pameran yang wajib kami ikuti setiap tahun. Mengapa? Karena para pembeli di sini benar-benar datang untuk bertransaksi, bukan sekadar menghadiri acara seremonial.”

Di situlah daya tarik utama CAEXPO.

Alih-alih hanya menjadi forum diplomasi dan pertukaran pandangan, pameran ini menyediakan ruang bagi perusahaan untuk bernegosiasi secara langsung, mempertemukan teknologi dengan kebutuhan pasar, serta menghubungkan pelaku industri di sepanjang rantai pasok.

Selama 23 tahun penyelenggaraannya, CAEXPO secara kumulatif telah menarik hampir 50.000 perusahaan peserta dan lebih dari 1,5 juta pembeli. Berbagai kesepakatan kerja sama dan proyek yang dihasilkan mencerminkan nilai ekonomi nyata dari hubungan bisnis yang terbangun melalui platform tersebut.

Bagi Tiongkok, CAEXPO merupakan platform terpadu untuk mendorong pembelian produk Tiongkok, ekspor ke pasar Tiongkok, serta investasi di negara tersebut.

Bagi Indonesia, CAEXPO berperan sebagai akselerator untuk mengubah keunggulan sumber daya nasional menjadi keunggulan industri yang memiliki nilai tambah.

Sementara bagi ASEAN secara keseluruhan, pameran ini menjadi salah satu sarana praktis untuk memperkuat integrasi ekonomi kawasan.

Tema CAEXPO tahun ini, “Berbagi Peluang 3.0”, merujuk pada peningkatan kerja sama melalui ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) versi 3.0.

Kerangka kerja sama tersebut untuk pertama kalinya memasukkan ekonomi digital, ekonomi hijau, serta konektivitas rantai pasok dan industri sebagai bidang penting. Dengan demikian, kerja sama ASEAN-Tiongkok diharapkan berkembang dari penurunan tarif perdagangan tradisional menuju penyelarasan aturan, regulasi, dan standar yang lebih mendalam.

Dengan kata lain, masa depan hubungan ekonomi Indonesia-Tiongkok tidak lagi hanya bergantung pada pola sederhana berupa penjual dan pembeli. Kedua negara semakin memiliki peluang untuk membangun ekosistem industri yang saling terhubung dan saling melengkapi.

Bijih nikel Indonesia, misalnya, dapat menjadi bahan baku bagi industri baterai Tiongkok. Teknologi fotovoltaik Tiongkok dapat mendukung pembangunan pembangkit listrik ramah lingkungan di Indonesia. Di sektor digital, sistem pembayaran Indonesia juga berpeluang membangun keterhubungan yang lebih erat dengan ekosistem teknologi finansial Tiongkok.

Integrasi semacam inilah yang mencerminkan arah kerja sama ekonomi pada era 3.0.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3 4 5

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.