UPDATE

ISLAM
ISLAM

Karhutla Tak Padam, Penyakit Bertandang, Kesehatan Terabaikan

DATA Kementerian Kesehatan per 17 Oktober 2026, menunjukkan terdapat 311.363 kasus, balita (bayi di bawah 5 tahun) mendominasi di angka 70.239 (22,6 persen) kasus. 65 kabupaten kota di 7 provinsi terdampak, yaitu: Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah terserang ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut).

Pengerahan 2.106 Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK) oleh Kemenkes telah mendistribusikan jutaan logistik medis ke wilayah terdampak karhutla.

Mirisnya, dari 1.691 puskesmas di wilayah terdampak, hanya 827 puskesmas yang memiliki nebulizer, 1.070 puskesmas memiliki tabung oksigen dan 1.502 puskesmas memiliki oksigen concentrator.

Padahal alat itu menjadi penunjang penanganan pasien dengan gangguan pernapasan.

Viral di media, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin terekam mencoba alat bantu oksigen saat meninjau Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Publik mengatakan baru sehari di area terdampak sudah mengenakan alat bantu oksigen, bagaimana dengan warga yang sudah berbulan-bulan?

Lebih memalukan, ternyata Menkes dalam rangka meresmikan fasilitas Rumah Oksigen milik Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) serta Bus Oksigen Keliling milik Pemprov Kalimantan Tengah di Palangka Raya.

Sekaligus dalam rangka menyalurkan bantuan alat kesehatan seperti masker, tabung oksigen, nebulizer, hingga air purifier untuk membantu masyarakat terdampak.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengatakan asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan zat berbahaya lainnya yang tak hanya memicu ISPA, batuk, sesak napas, tapi juga memperburuk asma.

Bayi, balita, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit paru kronis termasuk kelompok rentan.

Studi UC Irvine yang dipublikasikan dalam Environmental Protection Agency menganalisis lebih dari 627.000 kelahiran di California menjelaskan paparan PM2.5 dari asap karhutla yang berlebihan selama kehamilan juga perlu diwaspadai, karena berkaitan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur (preterm birth) dan pecah ketuban dini sebelum persalinan (Preterm Premature Rupture of Membranes/PPROM).

Bahkan, jangka panjangnya dapat memengaruhi kesehatan otak dan telah dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia.

Bencana Karhutla Membawa Bencana Yang Lebih Besar Lagi

Penanganan negara terhadap bencana karhutla kini jelas membawa bencana yang lebih besar lagi, yaitu masa depan generasi. Hari ini terbukti, mereka yang paling terdampak adalah anak, mereka menjadi korban kelalaian negara dalam menangani karhutla. Saluran pernapasan anak masih dalam masa pertumbuhan, laju pernapasan anak lebih cepat sehingga lebih banyak menghirup udara beracun per satuan berat badan, sistem kekebalan tubuh balita belum sepenuhnya matang. Bagaimana kemudian bisa berharap muncul generasi emas di masa depan, hari ini saja negara sudah lalai.

Negara tetangga memberi bantuan hingga warning, ditolak, bahkan kementerian haji meminta jemaah haji tidak transit di Singapura sejak Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup (Minister for Sustainability and the Environment), Grace Fu Hai Yien (Grace Fu) menunjukkan data perusahaan yang secara faktual menjadi penyebab kebakaran hutan.

Negeri ini sibuk melayani korporasi, dengan mengatakan hutan rusak akan dijadikan proyek B-50 atau Bioetanol yang itu berasal dari tanaman sawit. Artinya, pembakaran ini adalah cara termurah perusahaan membuka lahan dan bukan tak mungkin menteri kehutanan kita, Raja Juli Antoni tidak tahu, namun ia tak pernah terlihat batang hidungnya.

Butuh Negara Periayah

Allah SWT. berfirman yang artinya, “Dan apabila dia berpaling (dari engkau), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi, serta merusak tanam-tanaman dan ternak, sedang Allah tidak menyukai kerusakan.” (TQS Al-Baqarah:50).

Ayat ini jelas, bumi ciptaan Allah ini disediakan bagi kemaslahatan manusia, bukan untuk dirusak karena dikuasai oleh segelintir manusia. Namun, keserakahan itu memang sebuah keniscayaan dalam sistem aturan kapitalisme.

Kekayaan yang berkumpul pada orang-orang tertentu, menjadikan kekuasaan hanya sebagai alat mewujudkan sebuah proyek penghasil uang.

Atas nama teknologi, kesehatan dan entah apapun, sepanjang kapitalisme yang mengatur maka akan lahir pemimpin boneka, yang lebih patuh kepada modal (kapital) dari para korporasi.

Berbanding terbalik dengan sistem Islam yang menjadikan negara sebagai junnah (pelindung) akan bergerak cepat karena menyangkut nyawa generasi penerus dan mengerahkan sumber daya secara maksimal dari Baitul Maal Khilafah.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Sesungguhnya Imam/Khalifah adalah perisai orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung. Jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggung jawab atasnya.” (HR Muslim).

Negara juga bertindak sebagai ra’in (pengelola) yang akan mengupayakan segala macam cara untuk mengatasinya, baik promotif preventif dan kuratif, juga menggunakan teknologi terbaik.

Demikian juga upaya mitigasi terbaik dan secara proaktif memantau kondisi lapang agar dapat bertindak tepat dan cepat menyelamatkan generasi.

Karena secara alamiah, musim terus berganti, risiko kebakaran atau malah kebanjiran adalah yang pasti terjadi. Bukan menunggu bencana datang baru bertindak.

Di sisi lain, negara diwajibkan memenuhi sarana dan prasarana kesehatan agar dapat melayani rakyat.

Semua itu memang berbiaya besar, jika disandarkan pada APBN jelas kurang, kita tahu pendapatan terbesarnya dari pajak dan utang.

Belum lagi risiko dikorupsi dan adanya penghambur-hamburan anggaran karena terfokus pada proyek strategis nasional presiden hari ini, yang jika dikaji lebih dalam tidak menjadikan rakyat sejahtera secara signifikan.

Negara yang diwajibkan syariat untuk ditegakkan adalah Khilafah dengan Baitulmal sebagai lembaga keuangannya.

Pos pendapatannya terdiri dari tiga yaitu pos kepemilikan umum seperti hasil pengelolaan tambang, energi dan lainnya.

Kedua pos kepemilikan negara seperti jizyah, fa’i, khumus, kharaj dan lainnya dan terakhir pos zakat.

Ketangguhannya mengatasi segala kesulitan negara sudah terbukti, dan memang apa yang dikerjakan tidak sesuai dengan perintah Allah pasti akan mendatang kemudharatan.

Allah berfirman yang artinya:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS. Al-A’raf: 96).

Wallahualam bissawab. 

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.