UPDATE

ACEH
ACEH

Tragedi Penembakan di Tiro Pidie, KPA Luwa Nanggroe Desak Ketua DPRA Ambil Sikap Tegas

BANDA ACEH — Bungkamnya para wakil rakyat di tengah pertumpahan darah warga sipil di Gampong Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, memantik perlawanan keras dari internal pejuang Aceh.

Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Luwa Nanggroe sekaligus Penasihat Khusus Gubernur Aceh, T. Emi Syamsyumi yang akrab disapa Abu Salam melempar tuduhan tajam terhadap jajaran legislatif, dari tingkat daerah hingga Senayan.

Abu Salam menyoroti kejanggalan di balik heningnya para politikus pasca-insiden represif aparat keamanan saat peringatan Maulid Nabi, yang dipicu persoalan pengibaran bendera Bulan Bintang, Rabu (4/11/2026).

Tragedi berdarah itu merenggut nyawa Abzalul Rizal (20), warga Dayah Gampong Baro, akibat luka tembak, serta melukai enam warga sipil lainnya.

“Gubernur Aceh sudah bergerak pasang badan dan berupaya maksimal di garis depan perkara ini. Tapi kenapa lembaga legislatif—mulai dari DPRA, DPR RI, hingga DPD RI perwakilan Aceh—malah memilih bungkam? Jika mereka memilih diam menyaksikan rakyatnya ditembaki dan dianiaya, timbul pertanyaan besar: siapa sebenarnya yang sedang bermain sandiwara di atas penderitaan rakyat Aceh?” ujar Abu Salam dengan nada gusar.

Secara khusus, Abu Salam mengarahkan telunjuknya kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Zulfadhli alias Abang Samalanga.

Sebagai pimpinan tertinggi parlemen Aceh, Abang Samalanga dan seluruh anggota DPRA dinilai telah kehilangan keberanian institusional untuk membela konsistensi kehendak politik rakyat yang diwakilinya.

“Tanggung jawab utama hari ini ada di tangan legislatif. Lembaga DPRA bukan sekadar penonton bentrokan. Abang Samalanga harus ambil sikap tegas, jangan mengorbankan martabat Aceh demi kalkulasi politik aman,” kata Abu Salam.

“Jika wakil rakyat di DPRA, DPR RI, dan DPD RI asal Aceh lepas tangan dari tindakan represif Aparat Penegak Hukum (APH), maka legitimasi keberadaan mereka di kursi parlemen layak dipertanyakan,” lanjutnya.

Kritik tersebut kian beralasan mengingat jatuhnya korban luka-luka yang menyasar warga tak berdosa yakni Basri Hasan (46) warga Dayah Cot, Muhammad (48) dan Musliadi (40) warga Pulo Keunari, Darul Kamal (52) warga Paya Cot, Juanda Cut Rahman (62) warga Meunasah Mancang, dan Mutia (38) warga Gampong Pulo Keunari.

Kasus Mutia mempertegas kebrutalan di lapangan. Menurut keterangan suaminya, Iskandar, Mutia dihantam kekerasan fisik oleh oknum aparat saat sedang berjalan pulang usai berbelanja di lokasi yang berjarak lebih dari 100 meter dari titik utama bentrokan.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2
Story Terbaru
Tidak dapat memuat data story terbaru.
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.