UPDATE

Salam.life
NASIONAL
NASIONALEROPAINTERNASIONAL

Misi Selesai, China Mulai Campakkan Imran Khan dan Rajapaksa?

Sementara Eropa sedang dilanda krisis yang mengguncang dunia akibat invasi Rusia, di Asia, dua negara tengah dilanda krisis politik hebat. Sri Lanka dan Pakistan, dua sekutu China ini di saat yang nyaris bersamaan, dihadapkan pada kekacauan politik dan krisis demokrasi.

Sri Lanka menghadapi krisis ekonomi yang panjang yang diperparah oleh pandemi. Rakyat yang terhimpit melakukan demo besar-besaran, menuntut Presiden Gotabaya Rajapaksa dan para menterinya mundur. Para menteri akhirnya berbondong-bondong mundur, tetapi tidak dengan Rajapaksa. Sri Lanka, yang memiliki kemitraan erat dengan China di berbagai bidang, pun dihantam kerusuhan.

Di Pakistan, Perdana Menteri Imran Khan juga menghadapi hal yang sama. Ia dituduh gagal mengelola ekonomi, serta memiliki kebijakan luar negeri yang tidak baik. Mosi tidak percaya pun diluncurkan parlemen kepada pria yang disebut-sebut dekat dengan Xi Jinping ini.

Sebenarnya, bukan hal yang aneh mendengar carut marut politik di dua negara ini. Bertahun-tahun demokrasi kedua negara ini sudah sangat kacau.

“Sekarang, apakah Anda tahu kesamaan apa yang dimiliki Sri Lanka dan Pakistan, selain penguasa yang gagal total? Mereka memiliki koneksi yang sama; China!” ujar Palki Sharma Upadhyay, di saluran Wion yang ditayangkan pada Kamis (7/4).

Upadhyay mengatakan bahwa dua negara yang sedang dilanda krisis parah itu adalah sekutu erat China dan telah lama menjalin hubungan bilateral. Sekarang, saat keduanya sedang diterjang krisis, China seperti meninggalkan keduanya begitu saja.

Kisruh politik di masing-masing negara itu adalah urusan dalam negeri mereka. Namun, salah satu hal yang memicunya adalah krisis ekonomi. Perekonomian yang buruk dan naiknya harga-harga telah menjadi alasan bagi oposisi untuk melakukan manufernya.

Sri Lanka menghadapi krisis ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Cadangan devisanya turun menjadi sekitar 1,6 miliar dolar AS pada akhir November 2021, itu hanya cukup untuk membayar impor selama beberapa minggu, menurut laporan BBC.

Utang ke China pun menumpuk untuk pembangunan berbagai proyek infrastruktur, termasuk jalan, bandara, dan pelabuhan.

Pemerintah terpaksa membatasi impor beberapa komoditas penting, termasuk bahan makanan, untuk mempertahankan cadangan dolar vitalnya. Langkah ini, ditambah dengan meningkatnya harga bahan bakar dan angkutan, membuat harga kebutuhan pokok seperti susu bubuk dan beras jauh lebih tinggi.

Biaya hidup yang meroket bukan hanya masalah bagi Sri Lanka tetapi juga Pakistan yang sedang berjuang melawan lonjakan inflasi.

image_print
1 2
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.