Gubernur DKI yang dalam pemerintahannya mengaungkan kolaborasi dan keadilan sosial dalam politiknya membangun nasionalisme selalu bersandar pada Nasionalisme yang dikonsepkan Soekarno yaitu partipasi publik, persamaan hak dan kesetaraan sosial.
Anies Baswedan dan Soekarno sama-sama pecinta olahraga sepak bola. Demikian cintanya kepada sepak bola bahkan dalam pernyataannya menanggapi Covid-19, Anies memasukan harapan agar kondisi pascapandemi bisa bermain sepak bola.
“Bahagia itu kalau bisa main sepak bola, motoran, sepedaan barangkali dulu itu, tapi ketika pandemi bukan, bahagianya ketika Jakarta kematian nol, duh sujud sykur kita. Kematian hari itu nol, alhamdulillah. Mungkin aneh ya, tapi itulah kenyataannya yang saya rasakan,” demikian Anies Baswedan yang dimuat Kompas.com dengan judul “Anies Baswedan: Dulu Kebahagiaan Saya Main Sepak Bola, Sekarang Bahagia Jika Nol Kematian Covid-19”.
Seperti Soekarno, Anies Baswedan menggunakan sepak bola sebagai alat perjuangannya mewujudkan keadilan sosial dalam dunia olahraga. Hal ini diwujudkan oleh Anies Baswedan dengan membangun lima stadion sepakbola bertaraf internasional.
Pembangunan lima stadion bertaraf internasional yang dilakukan Anies Baswedan berdasarkan kondisi sosial warga DKI yang begitu menyukai olahraga sepak bola.
Namun mereka tidak memiliki kesempatan untuk bermain di lapangan dengan standar yang rumput yang bagus karena ketidakmampuan menyewa lantaran harganya mahal.
Anies Baswedan menyebut dirinya beberapa kali memerhatikan lapangan sepak bola yang rumputnya amat bagus dan berkualitas internasional. Namun sayangnya, kata dia, hampir semuanya dimiliki oleh sekolah ternama atau dibangun secara komersial.
Di satu sisi, masih banyak anak Jakarta yang tidak memiliki biaya untuk mengikuti latihan sepak bola di klub yang berbayar mahal.
Mimpi Anies Baswedan juga sama dengan mimpi Soekarno, yaitu sama-sama bermimpi sepak bola Indonesia bisa mengangkat harkat martabat bangsa Indonesia di mata dunia Internasional dengan prestasi kelas dunia dan menjadi salah satu kekuatan sepak bola dunia.
Pesannya begitu tegas, agar lima stadion sepak bola berstandar internasional tersebut tidak dikomersialkan, bahkan dituliskan di sekeliling lapangan bahwa lapangan ini tidak untuk dikomersialkan.
Jangan sampai fasilitas ini jadi lapangan berbayar. Mengapa? Agar yang tak bisa bayar tetap bisa bermain. Biarkan klub-klub di perkampungan punya kesetaraan kesempatan untuk tumbuh, berkembang dan berprestasi.
Anies Baswedan menginginkan lapangan sepak bola ini jadi tempat untuk tumbuhnya potensi, tinggikan mimpi dan inspirasi anak-anak dari semua kalangan. bahwa anak-anak yang kini bisa bermain sepak bola di lapangan kelas dunia ini kelak bisa menjadi pemain kelas dunia.


















































































































Komentar Terbaru