Saat ini, kata Ali, pihaknya terus mendalami dan menguatkan bukti perbuatan para tersangka dan pihak lainnya. Tak menutup kemungkinan KPK menetapkan pihak lain sebagai tersangka, diluar pihak yang saat ini sudah dijerat dengan pasal tindak pidana korupsi.
“Kami dalami lebih lanjut, termasuk kemungkinan-kemungkinan pihak lain yang bisa dipertanggungjawabkan secara hukum selain pihak-pihak yang sudah ditetapkan sebagai tersangka,” tandas Ali.
Sebelumnya Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango sempat melontarkan pernyataan bahwa pelaku korupsi di saat pandemi Covid-19 bisa dihukum mati. Kata Nawawi, jeratan hukuman mati bisa diterapkan kepada pelaku korupsi yang melakukan tindak pidana korupsi pada saat bencana nasional.
“Benar bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi dalam situasi yang kondisi seperti ini, kondisi di mana negeri lagi menghadapi musibah wabah Covid seperti ini, tentu sangat berharap bahwa tidak ada perilaku-perilaku korupsi yang terjadi dalam kondisi yang serba susah seperti ini, sebagaimana juga yang dibutuhkan di dalam Pasal 2 ayat 2. Bahwa ancaman hukuman mati bisa saja dilakukan pada mereka yang melakukan tindak pidana korupsi di masa ada bencana nasional, bencana sosial dan sebagainya,” ucap Nawawi dalam jumpa pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Jumat (4/12/2020).
Dalam pengusutan kasus ini, KPK telah mencegah lima orang bepergian keluar negeri dalam kasus ini. Lima orang dimaksud yaitu Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Budi Sylvana, Direktur PT Permana Putra Mandiri Ahmad Taufik, Direktur Utama PT Energi Kita Indonesia (EKI) Satrio Wibowo, A Isdar Yusuf (Advokat), dan Harmensyah (PNS BNPB).[]
















































































































