Jadi wajar jika selatan Jawa ini menjadi kawasan rawan gempa dan juga tsunami.
Dari data BMKG menyebutkan, bahwa gempa di atas 7,0 di Jawa ini terjadi sekitar 19 kali kalau dihitung dari tahun 1840 sampai 2006, dan kalau tsunaminya sendiri ini ada lima kali yang sudah pernah terjadi.
Menurut Kepala Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono berdasarkan frekuensi kejadian gempa yang merusak, ia menyebut sesar aktif sebenarnya lebih sering terjadi dan menimbulkan kerusakan serta korban jiwa dibandingkan dengan megathrust.
Namun megathrust sebenarnya relatif jarang terjadi, hanya saja sumber gempa ini mampu membangkitkan gempa dahsyat dengan magnitudo 8 hingga 9.
Sementara sumber gempa sesar aktif rata-rata hanya mampu memicu gempa paling tinggi magnitudo 7,5.
Gempa sesar aktif lebih sering terjadi atau berpusat di daratan, dekat perkotaan kemudian bahkan tempat tinggal kita sendiri.
Ini adalah potensi skenario terburuk, bukan prediksi yang akan terjadi dalam waktu dekat. Sehingga kapan terjadinya ini tidak ada satu orang pun yang tahu. Karena itulah harus dilakuka upaya mitigasi.
Penelitian ini bukan untuk membuat takut atau panik sudah cukup banyak sebenarnya peristiwa bencana ini di masa lalu. Jadi kiuta perlu untuk terus mempelajrinya untuk meminimaliris dampak megathrust.
Kajian-kajian seperti ini diperlukan untuk memberikan rekomendasi ke kita dan pemerintah soal apa yang harus dilakukan ke depannya.
Peneliti kegempaan menyebut, peta-peta jalur evakuasi dan sistem peringatan untuk mitigasi tsunami terutama di daerah-daerah pesisir Jawa dan Sumatera penting dilakukan.
Terkait hal itu, hal yang paling tepat dilakukan di antaranya selain tetap berdoa bahwa tidak ada peristiwa mengerikan yang akan terjadi, sekaligus tidak lupa berusaha untuk bisa beradaptasi memahami alam.































































































Beri Komentar