Pernah belum lama ini aku dan menantu serta cucu-cucu tak sengaja bertemu dia yang juga sedang bersama anak cucu menantu di restoran. Ia menunjukkan barcode di atas meja.
“Lin, lo ngerti ini apa? Gue gak ngerti dan kalau ada beginian untuk pesan-pesan dan bayar, mending gue pulang, hahaha. Sebab ini bukan generasi kita. Buat apa gue belajar ngerti ginian. Makanya gue bawa anak mantu yang ngerti,” ujarnya sembari tergelak tawa berderai-berderai.
Lalu kujawab dengan tawa pula, “Samaa… Gue juga Mas. Tapi kan dikau eks Menko, harusnya bisa paham lho.”
Sekarang baru kusadari, meski rumah kami sekawasan, tak pernah sekalipun kuundang Mas Rizal mampir ke rumah… Hahaha… Kalau dipikir-pikir, keterlaluan banget ya gue!
Kami kebanyakan ngobrol lewat telepon atau justru aku yang datang makan siang, makan malam di rumahnya, sesekali ngopi di kafe atau ngobrol di ruang kerjanya tentang segala hal kejadian di negeri ini.
Sahabatku yang manis hati, selamat jalan untukmu. Alfatihah untukmu. Segala doa terbaik mengiringimu. Terima kasih atas persahabatan tulus yang telah kudapat darimu.
Kini kau akan bertemu Hera dan Afung, yang mencintaimu sepanjang hayat mereka. Berbahagialah Mas Rizal Ramli, sang pejuang Indonesia tanpa pamrih, di tempatmu yang baru.





























































































Beri Komentar