Khawatir berpotensi mendapat invasi dari negara musuh dan sebagai sasaran yang lebih cepat dibandingkan Ibukota Jakarta. Khawatir tidak mendapat lapangan pekerjaan baru yang cocok. Khawatir pada wilayah yang jarang kepadatan penduduk merupakan representasi ketidakcocokan, ketidakramahan, ketidaksuburan, dan serba ketidakmudahan.
Memang senantiasa terdapat sejuta-juta alasan untuk tidak cocok dan menolak pindah ibukota negara ke Nusantara. Paling tidak minimal merasa tidak cocok dengan pemberian nama Nusantara. Tidak cocok sebagai gagasan personal, kesepakatan wakil-wakil rakyat, ataukah kebijakan nasional.
Selalu saja kegiatan migrasi penduduk menghasilkan orang-orang yang berpotensi menolak menjadi migran, melainkan memilih menetap di kampung halaman seumur hidup atas pertimbangan merasa telah nyaman bermukim di tempat tinggal yang lama.
Sumber fleksibilitas kesediaan migrasi terletak pada kehidupan rumah tangga sebagai migran menetap, ataukah bersifat sementara. Berumah tangga lebih dari satu tempat tinggal, atau pindah sepenuh ke ibukota Nusantara. Memulai dari modal awal kembali.
Memulai masuk sebagai komunitas yang baru. Merantau kembali. Untuk etnis tertentu yang memiliki keluwesan dalam merantau, maka hambatan pindah permukiman bukanlah kendala, melainkan memunculkan peluang dan harapan yang baru.
(Penulis adalah Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Pengajar Universitas Mercu Buana)
































































































Beri Komentar