UPDATE

ISLAM
ISLAM

Pemimpin Geng Paling Kejam Ini Jadi Lembut setelah Mendengar Adzan dan Masuk Islam

Yesus dikatakan sebagai Anak Tuhan, tetapi di saat yang sama juga disebut sebagai Tuhan. Saya dihadapkan pada dilema—harus memilih satu di antara keduanya.

Namun, tidak hanya itu yang membingungkan. Konsep Trinitas semakin menambah kerumitan: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Jika ada Bapa dan Anak, lalu sekarang ada Roh juga?

Di sinilah pertentangan mulai muncul dalam pikiran saya. Akibatnya saya mulai memberontak terhadap agama, hingga mencapai titik di mana saya benar-benar tidak percaya pada keberadaan pencipta.

Saya tidak percaya pada Tuhan. Jika Tuhan ada, mengapa saya harus mengalami penderitaan ini?

Saya marah. Saya bahkan mengutuk Tuhan. Saya tidak bisa menerima kenyataan bahwa ibu saya membunuh ayah saya, lalu menghilang begitu saja. Hidup saya terasa hampa. Saya meragukan segala sesuatu, termasuk keberadaan Sang Pencipta.

Saya mulai berpikir bahwa saya sendirilah pencipta takdir saya. A’udhubillah, saya bertindak seolah tidak ada kekuatan yang lebih tinggi dari diri saya sendiri.

Karena saya merasa muda, penuh amarah, dan merasa tidak membutuhkan siapa pun. Saat itu saya berusia sekitar 18 atau 19 tahun.

Dalam hidup saya, tidak ada tempat untuk kelemahan. Saya ingin dikenal sebagai sosok yang ditakuti.

Saya mulai berpikir bahwa sayalah penguasa hidup saya, sang kreator. Saya pernah bersumpah, “Saya tidak akan pernah menjadi Muslim. Saya tidak akan pernah menundukkan wajah saya ke tanah (sujud, red).”

Tertangkap Polisi

Hidup yang saya jalani dahuku adalah satu-satunya kehidupan yang saya tahu. Saya menikmatinya, bukan karena hal itu benar, tetapi karena saya tidak mengenal kehidupan lain.

Bagaimana dengan agama? Saat itu, agama tidak memiliki arti dalam hidup saya. Apa yang diajarkan kepada saya tidak pernah saya terima.

Selain memiliki geng di Bronx, Queens, dan Brooklyn, saya juga terhubung dengan jaringan geng di Manhattan, Jersey, Philadelphia, dan Connecticut.

Mereka semua adalah bagian dari dunia saya—dunia yang saya ciptakan dengan kekerasan dan ketakutan. Ketika kami mengadakan pertemuan, mereka datang dari berbagai penjuru, siap untuk menjalankan perintah saya.

Kekacauan selalu memberi saya kepuasan sebagai ‘Raja Jalanan’. Namun, ketika malam tiba dan saya benar-benar merasa sendirian dan kekosongan.

Setiap pagi, saya terbangun untuk mengisi kekosongan itu lagi—seperti mobil yang kehabisan bensin dan harus terus diisi ulang. Begitu hari dimulai, saya kembali tenggelam dalam kekacauan, merasa tak tersentuh, merasa berkuasa.

Di siang hari, semuanya terasa memuaskan. Orang-orang takut, dan saya merasa seperti penguasa dunia saya sendiri.

image_print
1 2 3 4

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.