UPDATE

KOMUNITAS

Refleksi 20 Tahun Perdamaian Aceh: Perempuan Ada di Mana?

BANDA ACEH – Selasa sore, 12 Agustus 2025, suasana di Kantor Flower Aceh tampak berbeda. Kursi-kursi disusun rapat menghadap layar putih di depan ruangan. Bukan untuk pemutaran film atau presentasi proyek pembangunan, melainkan untuk membuka ruang refleksi kritis. Sharing Session #21 – Refleksi 20 Tahun Perdamaian Aceh: Perempuan Ada di Mana?

Mahasiswa magang dari Prodi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) dan beberapa program studi lain dari UIN Ar-Raniry bergerak cepat memastikan segala kebutuhan teknis berjalan lancar. Proyektor menyala, menampilkan judul kegiatan besar di layar, sementara catatan-catatan materi telah disiapkan.

Bagi sebagian pihak, dua dekade damai Aceh adalah kisah yang patut dirayakan, tak ada lagi baku tembak, tak ada lagi pos pemeriksaan militer di jalan-jalan utama. Namun, di ruangan itu, narasi yang hadir justru memperlihatkan wajah lain dari perdamaian. Sisi yang jarang terdengar, apalagi masuk ke dalam laporan resmi.

Perempuan yang Hilang dari Narasi Besar

Suraiya Kamaruzzaman, salah satu pendiri Flower Aceh, menjadi pembicara utama sore itu. Duduk tenang di kursi depan, ia membuka sesi dengan suara mantap namun penuh beban cerita. “Sekitar lima ribu pernyataan korban perempuan yang memuat kesaksian tentang empat bentuk kekerasan: penyiksaan, kekerasan seksual, pembunuhan, dan penghilangan paksa,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa angka itu bukan sekadar statistik di laporan penelitian. “Ini adalah wajah-wajah yang kita kenal. Tetangga, kawan, saudara. Dan luka mereka belum sembuh.”

Suraiya memaparkan bahwa selama ini perempuan Aceh tidak hanya berposisi sebagai korban. Dalam proses perdamaian, mereka menjadi agen yang memecah kebisuan, melobi dari gampong hingga forum internasional, menggerakkan komunitas akar rumput, mencari nafkah di tengah keterbatasan, bahkan ikut menjadi kombatan. Namun, ketika pembicaraan rekonsiliasi digelar, pengakuan terhadap pengalaman mereka kerap kandas di meja birokrasi dengan alasan teknis: “Mana nomenklaturnya?”

Luka yang Berbeda dari Bencana Alam

Suraiya kemudian menggarisbawahi perbedaan antara korban konflik dan korban bencana alam. Menurutnya, korban bencana mungkin kehilangan rumah atau anggota keluarga, namun korban konflik memikul beban ganda: trauma dan dendam. “Dendam itu bisa diwariskan jika tidak diobati,” ujarnya serius. Hingga hari ini, ia menilai pemerintah belum memberi perhatian yang cukup pada layanan konseling bagi korban konflik, terutama perempuan.

Kondisi ini, menurut Suraiya, berisiko melanggengkan siklus kekerasan dalam bentuk-bentuk baru, bahkan setelah senjata didiamkan.

Tubuh Perempuan Sebagai Arena Tawar-Menawar

Bagian diskusi menjadi semakin hening ketika Suraiya membahas kekerasan berbasis gender dalam konteks konflik. Ia mengungkapkan bahwa tubuh perempuan kerap dijadikan alat tawar-menawar politik oleh pihak-pihak yang bertikai. Pascadamai, tantangan perempuan tidak berkurang signifikan.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.