Allah Ta’ala mengingatkan dalam Al-Qur’an, “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)
Daftar Isi
Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan dalam sistem selain Islam pasti menghadirkan kesempitan dan penderitaan, sebagaimana yang kita saksikan hari ini.
Dampak Nyata bagi Rakyat
Ketidakmerataan layanan pendidikan dan kesehatan berdampak luas. Anak-anak dari keluarga miskin sulit mengakses pendidikan tinggi, sehingga sulit keluar dari lingkaran kemiskinan. Akibatnya, kesenjangan sosial semakin tajam.
Di bidang kesehatan, angka stunting yang tinggi menunjukkan kegagalan negara memenuhi gizi dasar anak bangsa. Padahal, stunting berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa depan, baik secara fisik maupun intelektual. Jika masalah ini tidak terselesaikan, mustahil Indonesia mampu menjadi bangsa yang kuat dan berdaya saing.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang ia urus.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menegaskan tanggung jawab negara dalam memastikan kesejahteraan rakyat, termasuk kebutuhan pendidikan dan kesehatan.
Sejarah Islam: Bukti Kesejahteraan Hakiki
Sejarah Islam membuktikan bagaimana negara mampu menjamin kebutuhan dasar rakyat. Pada masa Rasulullah ﷺ dan Khulafaur Rasyidin, pendidikan dan kesehatan menjadi prioritas negara.
Di Madinah, Rasulullah ﷺ membangun sistem pendidikan berbasis masjid yang dapat diakses gratis oleh seluruh masyarakat. Bahkan, tawanan perang Badar diwajibkan mengajarkan baca tulis kepada sepuluh anak Muslim sebagai syarat kebebasan mereka. Ini menunjukkan kesungguhan negara Islam dalam mencerdaskan rakyatnya.
Di masa Umar bin Khaththab ra., negara membangun layanan kesehatan yang merata. Rumah sakit (bimaristan) didirikan di berbagai wilayah, lengkap dengan tenaga medis dan fasilitas terbaik, dan semua layanan diberikan gratis bagi rakyat. Sejarah mencatat, rumah sakit Islam menjadi rujukan dunia hingga berabad-abad kemudian.
Hal ini menjadi bukti nyata bahwa Islam menempatkan pendidikan dan kesehatan sebagai hak publik yang dijamin negara, bukan sekadar slogan.
Islam Menawarkan Solusi Hakiki
Islam memiliki mekanisme yang menjamin pendidikan dan kesehatan merata, gratis, dan berkualitas.
- Negara sebagai Ra’in (Pengurus Rakyat)
Negara Islam memandang pendidikan dan kesehatan sebagai kebutuhan dasar yang wajib dipenuhi. Bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan hak publik yang dijamin secara menyeluruh. - Pendidikan dan Kesehatan Gratis dan Merata
Dalam Islam, semua warga negara berhak mendapatkan pendidikan hingga level tertinggi secara gratis. Demikian juga layanan kesehatan, tersedia untuk semua tanpa diskriminasi. Negara wajib membangun sarana prasarana publik, termasuk jalan, jembatan, dan transportasi untuk mendukung akses rakyat. - Sumber Dana dari Baitul Maal
Negara Islam memiliki sumber dana berlimpah melalui pengelolaan kekayaan alam dan harta kepemilikan umum. Tambang emas, minyak, gas, batu bara, hingga hutan dan laut dikelola negara, bukan swasta. Hasilnya masuk ke Baitul Maal untuk membiayai kebutuhan rakyat, termasuk pendidikan dan kesehatan. - Kepemimpinan Khilafah yang Bertanggung Jawab
Khalifah bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan rakyat. Sejarah mencatat, di masa Umar bin Abdul Aziz, hampir tidak ditemukan lagi orang miskin yang layak menerima zakat karena rakyat hidup dalam kecukupan.
Saatnya Kembali ke Islam
Delapan puluh tahun lebih Indonesia merdeka, tetapi rakyat belum merasakan kemerdekaan sejati. Pendidikan dan kesehatan masih menjadi barang mahal, hanya bisa diakses oleh mereka yang mampu. Sementara jutaan rakyat miskin harus rela terpinggirkan.

















































































































Komentar Terbaru