UPDATE

LINGKUNGAN
LINGKUNGAN

Potret Keteguhan Nurhabli Ridwan: Sebulan Mengabdi di Tengah Lumpur Bencana Aceh Tamiang

Topik Berita: Bencana Sumatera

Bencana Sumatera

Pemerintah Salurkan Bantuan Perbaikan Rumah Korban Bencana di Aceh Tamiang

Pemerintah Salurkan Bantuan Perbaikan Rumah Korban Bencana di Aceh Tamiang

Bawaslu Aceh Utara Gandeng AHASS Honda Bantu Servis Motor Korban Banjir

Bawaslu Aceh Utara Gandeng AHASS Honda Bantu Servis Motor Korban Banjir

Postingan Anak Pejabat Aceh Jadi Sorotan, Pamer Liburan Mewah di Tengah Pemulihan Bencana

Postingan Anak Pejabat Aceh Jadi Sorotan, Pamer Liburan Mewah di Tengah Pemulihan Bencana

ACEH TAMIANG – Di tengah hamparan lumpur sisa bencana hidrometeorologi yang masih menyelimuti pemukiman warga di Kabupaten Aceh Tamiang, sosok Nurhabli Ridwan (31) berdiri sebagai representasi nyata dari dedikasi kemanusiaan tanpa batas.

Relawan asal Deli Serdang, Sumatera Utara ini, memilih untuk bertahan lebih dari satu bulan di lokasi bencana demi mendampingi para penyintas yang tengah berjuang melewati masa-masa sulit.

Nurhabli, yang akan genap berusia 31 tahun pada 3 Februari mendatang, bukanlah orang baru di dunia kerelawanan.

Rekam jejaknya di bidang kemanusiaan telah dimulai sejak bangku SMK melalui berbagai organisasi di tanah kelahirannya.

Saat ini, ia aktif di Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS).

Dari Distribusi Logistik hingga Pemulihan Fisik

Kehadiran Nurhabli di Aceh Tamiang bermula dari panggilan kemanusiaan saat bencana banjir, pohon tumbang, dan tanah longsor melanda wilayah Aceh dan Sumatera.

Awalnya, ia bersama tim kolaborasi dari Medan hanya bertugas mendistribusikan logistik ke daerah pelosok yang sulit dijangkau.

Namun, pemandangan memilukan di lapangan mengubah rencananya.

“Melihat rumah-rumah yang hancur rata dengan tanah, sisa lumpur yang tebal, serta warga yang menanti bantuan dengan tatapan kosong, saya merasa tidak bisa hanya datang lalu pulang,” ungkap Nurhabli.

Ia akhirnya memutuskan menetap dan bergabung di Posko Pertamina Peduli yang berlokasi di halaman Kantor Disdukcapil Kabupaten Aceh Tamiang.

Di sana, perannya sangat cair; mulai dari menjaga posko, melakukan asesmen data, distribusi air bersih, hingga turun langsung membersihkan sumur cincin dan lumpur di rumah-rumah warga.

Sinergi dan Kolaborasi Lintas Organisasi

Keberhasilan penanganan dampak bencana di Aceh Tamiang menurut Nurhabli tidak lepas dari kekuatan kolaborasi. GRAS menjalin kerja sama erat dengan berbagai pihak, di antaranya:

  • Relawan Palang Merah Indonesia (PMI)
  • Mapala Genetika UISU Medan
  • Yayasan Pendidikan Islam Al-Fakhri Sunggal
  • Emergency Response Posko Merah Putih (Erump)
  • Pertamina Peduli
  • KPA Karpa Buana & KPA Teratai
  • Yayasan Wanadri, TNI, hingga komunitas Amal Keluarga Besar Bugis-Makassar.

“Ini bukan lagi bencana biasa. Skala kerusakannya melumpuhkan hampir seluruh wilayah. Di sini, niat ikhlas dan persatuan antar-relawan dari berbagai daerah menjadi energi utama bagi kami,” tambahnya.

Saat ini, Pemerintah Aceh telah menetapkan status Transisi Darurat ke Pemulihan Bencana selama 90 hari, terhitung sejak 29 Januari hingga 29 April 2026.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.