Sudut pandang dari pemerintah, dalam hal ini Kemendikdasmen, dilengkapi perspektif Poros Pelajar yang mewakili suara pemuda Indonesia. Perwakilan IPM, IPNU, dan IPPNU menyampaikan pendapat mereka tentang partisipasi masyarakat dalam meningkatkan kualitas dan akses pendidikan.
Menurut Ketua Umum PP IPM Dany Rahmat Muharram, bahwa perlu adanya pendidikan yang berkualitas dan merata untuk terus meningkatkan kesetaraan di ruang publik.
“Peran aktif pelajar dan masyarakat untuk berpikir kritis, khususnya pelajar sekarang sudah menjadi subjek untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas,” tukas Dany.
Sementara itu, Ketua Bidang Organisasi PP IPNU, Muhammad Ghulam Dhofir, memaparkan bahwa pelajar, khususnya perempuan, perlu ikut ambil peran dalam pengembangan kualitas diri.
“Pelajar perlu tahu minat mereka di mana, supaya dapat mengembangkan diri. Bisa mulai sendiri dengan self-branding kalau sudah percaya diri, atau bisa bergabung dengan komunitas seperti IPM, IPNU, atau IPPNU. Membaca juga sangat diperlukan sebagai langkah awal untuk memperluas wawasan dan meningkatkan diri,” kata Ghulam.
Terakhir, Nada dari PP IPPNU menekankan ada tiga refleksi kunci yang terinspirasi dari semangat Kartini, yaitu agensi intelektual, percakapan kolektif, dan refleksi kritis. Melalui tiga hal ini, pelajar perempuan perlu meneruskan perjuangan Kartini untuk mengikis dominasi laki-laki di ruang publik.
“Para pemuda, khususnya pelajar perempuan, perlu mendobrak fenomena male mainstream, yaitu dominasi laki-laki di ruang publik,” pungkas Nada. []
































































































Beri Komentar