BANDA ACEH – Wakil Ketua Komisi III DPRK Banda Aceh, Tuanku Muhammad, meminta pemerintah pusat dan PT PLN agar Aceh memiliki sistem kelistrikan mandiri yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada sistem interkoneksi Sumatera Bagian Utara (Sumbagut). Menurutnya, langkah tersebut sangat penting untuk memperkuat ketahanan energi Aceh dan menghindari kerugian besar akibat ketidakstabilan pasokan listrik dari luar daerah.
“Ketahanan energi adalah fondasi pembangunan ekonomi. Aceh tidak boleh terus berada dalam posisi rentan akibat ketergantungan penuh pada sistem Sumbagut. Kita membutuhkan sistem kelistrikan yang lebih mandiri, kuat, dan mampu menjamin kepastian pasokan listrik bagi masyarakat. Kejadian pemadaman listrik dalam dua hari ini sangat merugikan dan memberi trauma yang mendalam bagi warga Aceh.,” ujar Tuanku Muhammad.
Advertisements
Ia menjelaskan, selama ini Aceh masih menjadi bagian dari sistem interkoneksi kelistrikan Sumatera Bagian Utara yang terhubung dengan Sumatera Utara dan wilayah lainnya. Akibatnya, setiap gangguan transmisi maupun krisis pasokan energi di luar Aceh langsung berdampak pada masyarakat Aceh.
Data PLN menunjukkan kebutuhan listrik di Aceh terus mengalami peningkatan setiap tahun. Pada malam pergantian tahun 2024 misalnya, beban puncak listrik Aceh mencapai sekitar 516 MegaWatt (MW). Sementara daya mampu pasok sistem kelistrikan Aceh saat itu berada di kisaran 733 MW.
Sebelumnya pada tahun 2023, Pemerintah Aceh juga mencatat daya mampu kelistrikan Aceh mencapai 822 MW dengan beban puncak sekitar 567 MW. Artinya, secara umum Aceh memang masih memiliki surplus daya, namun sistem tersebut masih sangat bergantung pada jaringan interkoneksi Sumbagut.
Menurut Tuanku Muhammad, surplus daya tidak otomatis menjamin keamanan energi apabila pusat kendali pasokan masih bertumpu pada jaringan luar Aceh. Ia mencontohkan peristiwa gangguan regasifikasi LNG tahun 2022 yang menyebabkan sistem kelistrikan Sumatera Bagian Utara kehilangan pasokan hingga 1.124 MW dan berdampak langsung terhadap pemadaman listrik di Aceh. Saat itu, beban puncak Aceh mencapai sekitar 530 MW, sementara pasokan yang tersedia tidak mencukupi sehingga ratusan ribu pelanggan mengalami pemadaman listrik.
Karena itu, ia menilai Aceh harus segera memperkuat pembangkit lokal agar memiliki cadangan energi strategis yang dapat berdiri sendiri ketika terjadi gangguan pada jaringan utama Sumatera.
Salah satu langkah yang dinilai paling realistis adalah mengaktifkan kembali dan mengoptimalkan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Ladong di Aceh Besar. Menurutnya, PLTG Ladong memiliki posisi strategis untuk menopang sistem kelistrikan Aceh, terutama wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar yang menjadi pusat pemerintahan dan aktivitas ekonomi.















































































































